Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Penunjukan Loyalis Trump Tanpa Pengalaman Intelijen Picu Kontroversi di AS

POROS PERLAWANAN — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menunjuk Bill Pulte sebagai pelaksana tugas Direktur Intelijen Nasional AS di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global. Penunjukan itu memicu kontroversi karena Pulte dinilai tidak memiliki pengalaman memadai di bidang keamanan nasional maupun intelijen.

Dilansir Associated Press pada Kamis, 3 Juni 2026, Trump mengumumkan penunjukan tersebut sehari sebelumnya. Pulte dikenal sebagai loyalis dekat Trump dan kerap menyerang lawan politik presiden, baik dari Partai Demokrat maupun internal Partai Republik.

Pulte menggantikan Tulsi Gabbard yang mengundurkan diri pada akhir Mei setelah menjalani masa jabatan kontroversial. Pengunduran diri Gabbard disebut berkaitan dengan perbedaan pandangan dengan Trump terkait perang Iran dan kebijakan Washington di Timur Tengah.

Kontroversi semakin menguat setelah muncul informasi bahwa Pulte tetap menjalankan tugas sebelumnya dalam pengawasan kebijakan perumahan dan pinjaman nasional bersamaan dengan jabatan barunya di sektor intelijen.

Padahal, berdasarkan hukum Amerika Serikat, Direktur Intelijen Nasional merupakan penasihat utama presiden dalam urusan intelijen dan keamanan nasional. Jabatan tersebut mensyaratkan pengalaman luas di bidang keamanan strategis, sesuatu yang dinilai tidak dimiliki Pulte.

Gedung Putih belum memberikan penjelasan rinci mengenai alasan penunjukan itu. Namun, Trump melalui media sosial memuji Pulte sebagai sosok yang berpengalaman dalam menangani “persoalan paling sensitif di Amerika”, yakni integritas pasar.

Pernyataan tersebut memicu kritik baru dari sejumlah pengamat politik dan keamanan nasional yang menilai Trump kembali mengedepankan loyalitas politik dibanding kompetensi profesional dalam penempatan pejabat strategis pemerintahan.

Penunjukan Pulte terjadi ketika Washington menghadapi tekanan geopolitik yang semakin kompleks, mulai dari perang Ukraina, ketegangan dengan Iran, hingga persaingan global dengan Rusia dan China. Dalam situasi itu, posisi Direktur Intelijen Nasional dipandang penting dalam menentukan arah kebijakan keamanan dan diplomasi Amerika Serikat.

Tags: