Pengamat: Peta Kekuatan Kawasan Mulai Bergeser ke Arah Poros Perlawanan
POROS PERLAWANAN — Sejumlah pengamat kawasan menilai peta kekuatan geopolitik Timur Tengah mulai bergeser ke arah yang menguntungkan Poros Perlawanan setelah Amerika Serikat dan Israel dinilai gagal mencapai target strategis mereka di kawasan.
Dilansir Al Masirah pada Kamis, 3 Juni 2026, para analis menyebut Timur Tengah kini memasuki fase baru yang ditandai menguatnya daya tangkal kelompok-kelompok perlawanan serta melemahnya kemampuan Washington dan Tel Aviv dalam memaksakan agenda politik maupun militer.
Pengamat strategi dan politik Ali Hamiya mengatakan meningkatnya kekuatan Poros Perlawanan telah mengubah banyak kalkulasi lama di kawasan. Menurutnya, ketahanan Hizbullah di Lebanon selatan turut memperkuat kesatuan arah dan kepentingan antarkelompok perlawanan.
“Iran saat ini memiliki kapasitas strategis yang besar. Di sisi lain, peran Ansarullah di Bab al-Mandab turut memengaruhi keamanan energi dan jalur perdagangan internasional,” kata Hamiya dalam wawancara dengan Al Masirah.
Ia menilai Washington kini lebih fokus membatasi kerugian strategis dibanding mengejar capaian baru di kawasan. Dalam konteks tersebut, Iran disebut memasuki setiap proses negosiasi dari posisi yang lebih kuat demi menjaga kepentingan dan capaian strategisnya.
Hamiya juga menegaskan kemampuan deterrence atau daya tangkal Iran telah mengubah kalkulasi Amerika Serikat dan Israel secara signifikan. Menurutnya, Washington kini lebih berhati-hati menghadapi kemungkinan eskalasi baru di kawasan.
Pandangan serupa disampaikan penulis dan peneliti politik Iran, Hossein Rouyvaran. Menurutnya, kegagalan operasi militer terbaru Amerika Serikat dan Israel memperlihatkan semakin terbukanya perbedaan kepentingan antara Washington dan Tel Aviv.
Rouyvaran mengatakan Amerika Serikat dan Israel gagal mencapai target mereka, baik di lapangan maupun pada level politik dan keamanan. Situasi tersebut dinilai mempersempit ruang bagi opsi eskalasi militer lanjutan.
“Iran mendekati setiap perundingan dari posisi kuat dan tidak menerima tekanan maupun diktat asing,” ujar Rouyvaran.
Ia menambahkan setiap bentuk kesepakatan hanya akan memiliki legitimasi apabila dibangun melalui kerangka resmi dan jelas.
Pada bagian akhir, Rouyvaran menilai pernyataan para pejabat Amerika Serikat yang saling bertentangan mencerminkan kebingungan Washington setelah mengalami kegagalan strategis terbaru di kawasan.
Menurutnya, Timur Tengah kini sedang menyaksikan terbentuknya keseimbangan baru dengan peran poros perlawanan yang semakin dominan dibanding sebelumnya.
