The Guardian: Trump Tak Punya Rencana Cadangan dalam Konflik Iran
POROS PERLAWANAN — Harian Inggris The Guardian menilai Presiden Amerika Serikat Donald Trump tidak memiliki strategi alternatif yang jelas dalam menghadapi Iran setelah keluar dari kesepakatan nuklir 2015 dan memilih jalur tekanan militer.
Dalam artikel opini Kenneth Roth yang terbit pada Senin, 1 Juni 2026, berjudul Trump had no plan B for Iran. It shows, disebutkan bahwa Washington kini justru kembali menuju pendekatan diplomatik yang mirip dengan JCPOA, perjanjian nuklir Iran yang dibatalkan Trump pada 2018.
Menurut Roth, JCPOA pada masa pemerintahan Barack Obama berhasil membatasi pengayaan uranium Iran hingga 3,67 persen serta membuat Teheran mengirim sekitar 11 ton uranium ke Rusia.
Namun, keputusan Trump keluar dari kesepakatan tersebut dinilai justru membuka ruang bagi Iran untuk meningkatkan tingkat pengayaan uranium hingga 60 persen.
The Guardian menilai strategi tekanan militer terhadap Iran gagal menghasilkan keuntungan strategis maupun politik bagi Washington.
“Presiden Amerika Serikat yang menyebut dirinya ahli negosiasi kini berada dalam posisi harus menerima rancangan kesepakatan yang secara politik mempermalukannya sendiri,” tulis Roth.
Artikel itu menyebut konflik yang berlangsung justru menempatkan Iran pada posisi tawar yang lebih kuat dalam proses negosiasi.
The Guardian juga menyinggung serangan militer bersama Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang sebelumnya diharapkan mampu melemahkan pemerintahan Teheran.
Menurut artikel tersebut, Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berharap tekanan militer serta pembunuhan para pemimpin Iran dapat mengguncang stabilitas pemerintahan Iran. Namun hasilnya dinilai berlawanan.
“Serangan itu tidak menjatuhkan pemerintahan Iran, tetapi malah memperkuatnya,” tulis media tersebut.
The Guardian juga menyoroti dampak ekonomi konflik terhadap Amerika Serikat. Sebelum perang, sekitar seperlima distribusi minyak dan gas cair dunia melewati Selat Hormuz. Gangguan pelayaran di jalur strategis itu disebut meningkatkan tekanan inflasi terhadap ekonomi Amerika Serikat sekaligus memperburuk prospek Partai Republik menjelang pemilu sela November mendatang.
Artikel tersebut menyebut Iran kini berada pada posisi tawar lebih kuat karena memahami kebutuhan Washington untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Bahkan, sejumlah isu yang sebelumnya dijadikan alasan perang oleh Trump, seperti program rudal Iran dan dukungan Teheran terhadap Hamas serta Hizbullah, disebut tidak lagi menjadi bagian utama dalam rancangan kesepakatan yang sedang dibahas.
Dalam analisanya, The Guardian menegaskan solusi paling realistis adalah menerima pengayaan uranium Iran dalam batas tertentu disertai pengawasan internasional yang ketat, pendekatan yang disebut sebagai keberhasilan utama JCPOA.
Pada bagian akhir, Roth menilai Trump seharusnya menempatkan penggunaan kekuatan militer sebagai opsi terakhir dan hanya dalam kerangka Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Artikel itu juga menyebut Trump perlu menghentikan dukungannya terhadap agenda perang berkepanjangan Netanyahu dan lebih mengutamakan kepentingan nasional maupun global dibanding kepentingan politik pribadi.
The Guardian menutup analisanya dengan menyebut Trump perlu menerima kenyataan atas kegagalan strateginya terhadap Iran, meski hal itu berisiko merusak citra politik yang selama ini dibangunnya sebagai “ahli negosiasi”.
