Media Dekat Kongres AS Soroti Empat Risiko jika Trump Kembali Perang Besar dengan Iran
POROS PERLAWANAN – Di tengah meningkatnya ancaman Presiden Amerika Serikat, Donald Trump terhadap Iran, media Amerika The Hill memperingatkan bahwa setiap keputusan Washington untuk meninggalkan jalur diplomasi dan kembali melancarkan operasi militer berskala besar akan membawa konsekuensi serius, baik di dalam negeri maupun di panggung internasional.
Laporan yang diterbitkan The Hill pada Kamis 16 Juli itu muncul setelah The Wall Street Journal, sehari sebelumnya, mengungkap bahwa Trump tengah mempertimbangkan sejumlah opsi militer, termasuk pengerahan pasukan darat untuk menduduki pulau-pulau Iran dan serangan terhadap Gunung Kolang.
Menurut The Hill, pengalaman perang selama hampir 40 hari melawan Iran yang berakhir dengan gencatan senjata pada awal April menunjukkan bahwa eskalasi baru justru berpotensi memperbesar beban Amerika Serikat. Media tersebut mengidentifikasi sedikitnya empat tantangan utama yang akan dihadapi Washington.
Persediaan Rudal Menipis
Perang melawan Iran disebut telah menguras cadangan persenjataan Amerika Serikat dalam skala besar. Panglima US Central Command (CENTCOM), Jenderal Brad Cooper mengatakan kepada Senat pada Mei lalu bahwa Militer Amerika telah menembakkan lebih dari 13.000 amunisi sebelum gencatan senjata diberlakukan.
Mengutip analisis Center for Strategic and International Studies (CSIS), The Hill melaporkan aksi militer tersebut menghabiskan hampir 50 persen persediaan rudal Patriot, lebih dari separuh sistem pertahanan THAAD, serta lebih dari 45 persen stok rudal presisi Precision Strike Missile (PrSM).
Akibatnya, Pentagon kini meminta Kongres menyetujui anggaran pertahanan tambahan di luar proposal anggaran US$1,5 triliun untuk tahun fiskal 2027 guna memulihkan stok persenjataan.
The Hill menilai perang baru melawan Iran akan semakin melemahkan kesiapan Militer Amerika menghadapi potensi konflik lain, terutama jika terjadi konfrontasi dengan China di kawasan Taiwan. Bahkan, para analis memperkirakan pemulihan penuh cadangan senjata Amerika membutuhkan waktu empat tahun atau lebih, dengan asumsi pendanaan Kongres disetujui.
Ancaman Resesi
Laporan itu juga menyoroti risiko ekonomi apabila konflik kembali meluas.
The Hill mengutip pernyataan Trump pada 17 Juni 2026 di Prancis, ketika Presiden AS mengakui pembukaan kembali Selat Hormuz melalui nota kesepahaman dengan Iran didorong oleh kekhawatiran terhadap terganggunya pasokan energi dunia.
“Jika minyak habis, situasinya akan berubah menjadi kekacauan,” kata Trump saat itu.
Peneliti senior Center for International Policy, Sina Toossi mengatakan cadangan minyak strategis Amerika masih berada pada tingkat terendah dalam beberapa dekade. Menurutnya, kondisi tersebut membuat Amerika memiliki ruang yang jauh lebih sempit untuk menghadapi gangguan pasokan energi berkepanjangan.
The Hill mencatat harga bahan bakar kembali naik setelah konflik meningkat pekan ini. Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) bahkan memperingatkan pertumbuhan ekonomi global dapat turun dari 2,1 persen pada 2026 menjadi 1,8 persen pada 2027 apabila gangguan terhadap pasokan energi terus berlanjut.
Mengganggu Peluang Partai Republik
The Hill juga menilai kebijakan Trump terhadap Iran berpotensi memengaruhi Pemilu paruh waktu Amerika Serikat.
Mengutip analis data senior YouGov, Alex Russell Hayes, media tersebut menyebut perang sejak awal tidak mendapat dukungan mayoritas publik. Survei Universitas Quinnipiac setelah penandatanganan nota kesepahaman menunjukkan 60 persen pemilih Amerika menilai perang tersebut “tidak sepadan”.
Menurut Hayes, arah ekonomi akan menjadi faktor utama yang menentukan perilaku pemilih menjelang Pemilu. Selama konflik berdampak terhadap harga energi dan inflasi, dukungan terhadap Pemerintahan Trump diperkirakan ikut terpengaruh.
Laporan itu juga mencatat penutupan Selat Hormuz oleh Iran sebagai respons atas pelanggaran berulang Amerika terhadap nota kesepahaman telah menurunkan lalu lintas pelayaran ke tingkat terendah sejak kesepakatan diberlakukan.
Meski banyak anggota Partai Republik mendorong aksi militer yang lebih keras terhadap Iran, The Hill menilai Trump masih berhati-hati untuk menggelar operasi darat dan cenderung mempertahankan kombinasi tekanan diplomatik serta serangan udara.
Sekutu Arab Semakin Menjauh
Risiko lain yang disorot The Hill adalah dampaknya terhadap hubungan Amerika Serikat dengan sekutu-sekutunya di kawasan Teluk.
Media tersebut mencatat serangan balasan antara Iran dan Amerika kembali menguji sistem pertahanan udara negara-negara Teluk. Bahrain, Qatar, Kuwait, Oman, dan Yordania mengaku berhasil mencegat rudal maupun drone, meski sejumlah rekaman udara memperlihatkan kerusakan pada pangkalan militer Amerika di kawasan tersebut.
Menurut The Hill, penutupan kembali Selat Hormuz juga mengganggu ekspor energi yang menjadi tulang punggung ekonomi negara-negara Teluk serta menghambat upaya diversifikasi ekonomi menuju sektor pariwisata dan jasa.
Mengutip Penasihat Kawasan Teluk di European Institute of Peace, Anna Jacobs, media itu menyebut hampir seluruh negara Teluk memiliki kepentingan yang sama, yakni mencegah perang kembali meluas meskipun masing-masing memiliki pandangan berbeda terhadap nota kesepahaman dengan Iran.
Laporan itu juga menyinggung gagasan Trump untuk mengenakan tarif 20 persen terhadap seluruh kargo yang melintasi Selat Hormuz. Usulan tersebut mendapat penolakan dari para pemimpin Teluk sehingga akhirnya dibatalkan. Sebagai gantinya, Trump menyatakan negara-negara tersebut akan meningkatkan investasi di Amerika Serikat sebagai bentuk kompensasi.
