Loading

Ketik untuk mencari

Iran

Serangan Iran ke Batelco dan Pusat AI Bahrain Lumpuhkan Jaringan Digital AS di Kawasan

POROS PERLAWANAN — Serangan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) terhadap pusat kecerdasan buatan (AI) dan pusat data Batelco di Bahrain disebut sebagai upaya melumpuhkan infrastruktur digital yang digunakan Amerika Serikat untuk mendukung operasi militer dan intelijennya di kawasan.

Dalam laporan yang diterbitkan Tasnim News pada Sabtu (19/7/2026), serangan tersebut dinilai tidak hanya menyasar sasaran militer konvensional, tetapi juga infrastruktur teknologi yang menjadi tulang punggung sistem komando, pengawasan, dan pemrosesan data modern.

Berdasarkan sejumlah pernyataan resmi IRGC, terdapat tiga sasaran utama yang diklaim menjadi target serangan di Bahrain, yaitu pusat utama kecerdasan buatan, depot kapal nirawak permukaan (unmanned surface vehicle/USV) milik Amerika Serikat, dan pusat data intelijen Batelco.

Pusat AI Bahrain

Dalam Komunike Operasi Nasr 2 Gelombang ke-17, IRGC mengklaim telah menghancurkan “pusat utama kecerdasan buatan Bahrain” yang disebut digunakan Amerika Serikat untuk mendukung proses identifikasi sasaran dalam operasi militernya.

Tasnim menyebut identitas fasilitas tersebut belum dapat dipastikan. Namun, sejumlah analisis mengarah pada dua kemungkinan, yakni Pusat Riset dan Pengembangan Kecerdasan Buatan Sheikh Nasser atau infrastruktur komputasi awan Amazon Web Services (AWS) di Bahrain.

Wilayah komputasi awan AWS Bahrain mulai beroperasi pada Juli 2019 sebagai kawasan cloud pertama Amazon di Timur Tengah. Infrastruktur ini terdiri atas tiga zona ketersediaan yang mencakup sejumlah pusat data independen untuk menyediakan kapasitas komputasi dan penyimpanan bagi aplikasi kecerdasan buatan serta layanan komputasi awan.

Laporan tersebut juga menyebut layanan AWS selama bertahun-tahun digunakan oleh komunitas intelijen Amerika Serikat, termasuk CIA, NSA, dan lembaga intelijen lainnya.

Depot kapal nirawak

Selain pusat AI, IRGC juga mengklaim menghancurkan depot kapal nirawak permukaan milik Amerika Serikat di Bahrain.

Menurut Tasnim, Angkatan Laut Amerika Serikat melalui Task Force 59 membangun jaringan kapal nirawak otonom di Teluk Persia sebagai bagian dari konsep digital ocean. Kapal-kapal tersebut berfungsi mengumpulkan data radar, citra, dan informasi lingkungan secara berkelanjutan sebelum dikirim ke pusat pemrosesan di darat.

Laporan itu menambahkan, Task Force 59 memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan melalui pusat operasi yang berlokasi di Bahrain dan Yordania.

Pusat data Batelco

Pada Gelombang ke-19 Operasi Nasr 2, IRGC mengklaim telah menyerang pusat data intelijen Batelco di Bahrain.

Batelco merupakan penyedia utama infrastruktur telekomunikasi Bahrain yang mengoperasikan sejumlah pusat data berstandar Tier III, termasuk di Manama dan Al Juffair. Fasilitas tersebut memiliki kapasitas komputasi tinggi, sistem kelistrikan berkelanjutan, serta koneksi langsung ke jaringan serat optik internasional.

Tasnim menyebut sejumlah dokumen resmi menunjukkan Batelco memiliki kontrak dengan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat. Selain itu, infrastruktur telekomunikasi perusahaan tersebut juga disebut dimanfaatkan National Security Agency (NSA) untuk mendukung konektivitas ke Pangkalan Udara Sheikh Isa di Bahrain.

Menargetkan rantai sensor-to-shooter

Menurut analisis Tasnim, ketiga sasaran tersebut merupakan bagian dari satu ekosistem teknologi yang saling terintegrasi.

Data yang dikumpulkan kapal nirawak dikirim melalui jaringan komunikasi menuju pusat data dan pusat AI untuk diproses menggunakan algoritma machine learning dan computer vision. Hasil analisis tersebut kemudian dimanfaatkan untuk mendeteksi, melacak, hingga memilih sasaran (target selection) dalam operasi militer.

Karena itu, Tasnim menilai penghancuran depot kapal nirawak, pusat AI, dan pusat data Batelco berpotensi mengganggu rantai operasi sensor-to-shooter, yakni alur yang menghubungkan pengumpulan data sensor dengan proses pengambilan keputusan hingga pelaksanaan serangan.

Laporan tersebut menyimpulkan bahwa perang modern tidak lagi hanya bergantung pada persenjataan konvensional. Infrastruktur komputasi, pusat data, perangkat lunak, dan algoritma kecerdasan buatan kini memiliki nilai strategis yang setara dengan sistem persenjataan di medan tempur.

Di akhir laporannya, Tasnim mengutip peringatan IRGC dalam Komunike Operasi Nasr 2 Nomor 25 yang menyatakan bahwa apabila Amerika Serikat melanjutkan serangan terhadap infrastruktur Iran, pihaknya akan menargetkan aset industri, teknologi informasi, dan kecerdasan buatan milik perusahaan-perusahaan yang memiliki kepentingan Amerika di negara-negara yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *