Pemerintah Beirut Sepakat Jadikan Militer Lebanon ‘Instrumen Israel’
POROS PERLAWANAN – Menyusul negosiasi langsung antara Pemerintah Lebanon dengan pihak Zionis dan penandatanganan kesepakatan kompromi, jaringan media i24News melaporkan bahwa setelah Militer Lebanon memasuki “zona uji coba” dan melucuti senjata Hizbullah, Militer Israel akan kembali ke desa-desa tersebut untuk memeriksa situasinya.
Dilansir Kantor Berita Fars, setiap desa yang ditinggalkan oleh pasukan Zionis di selatan Lebanon dan dimasuki Militer Lebanon, Militer Israel akan tetap kembali ke sana untuk memastikan misi telah dijalankan.
Sehubungan dengan ini, seorang pejabat Amerika Serikat mengatakan kepada al-Jazeera bahwa pembentukan “zona uji coba” adalah kesempatan bagi Pemerintah Lebanon untuk secara praktis menguasai wilayah-wilayah yang sebelumnya di bawah kendali Hizbullah.
Pernyataan pejabat Amerika ini muncul di saat Pemerintah dan Militer Lebanon, selama lima belas bulan gencatan senjata dan masuknya Militer ke desa-desa di selatan Sungai Litani, gagal menghentikan operasi harian pasukan Zionis dalam bentuk pembunuhan, pengeboman, dan pelarangan kembalinya warga Lebanon ke desa-desa perbatasan. Selama periode ini, ketika Hizbullah tidak memberikan reaksi apa pun, hampir lima ratus warga Lebanon tewas dibunuh oleh Pendudukan di tengah sikap pasif Pemerintah Lebanon.
Pejabat Amerika ini, yang sepenuhnya sejalan dengan sikap Rezim Zionis, mengatakan, “Militer Lebanon akan bertanggung jawab atas zona uji coba dan membersihkannya dari senjata serta infrastruktur teroris.”
Terkait hal ini, Khalil Nasrallah, seorang jurnalis dan analis Lebanon, menanggapi pernyataan pejabat Amerika tersebut dengan menulis: “Retorika Amerika menggambarkan Perlawanan sebagai teroris, Mereka ingin Militer Lebanon bertindak di wilayah yang tidak bisa dijangkau Israel sendiri.”
“Apa yang digambarkan oleh Amerika tidak akan terwujud dalam praktiknya, dan mereka sendiri tahu itu. Militer Lebanon memang sedang dikerahkan dan semua orang menyambutnya. Namun istilah ‘infrastruktur’ adalah istilah yang bisa ditafsirkan secara luas, yang bermakna penggeledahan rumah-rumah dan pengejaran terhadap para ‘pejuang’. Saya rasa Hizbullah tidak memiliki niat untuk bekerja sama dalam rencana apa pun yang telah disusun oleh Amerika.”
Departemen Luar Negeri AS mengumumkan dimulainya zona uji coba untuk pelucutan senjata dan penghancuran infrastruktur Perlawanan di 3 desa di selatan dengan kerja sama Pemerintah dan Militer Lebanon.
Kantor Berita Axios beberapa jam lalu, mengutip seorang pejabat Israel, melaporkan bahwa penarikan Militer Israel dari zona uji coba di selatan Lebanon akan dilakukan pada hari Selasa.
Berdasarkan kesepakatan Beirut dan Rezim Zionis, Militer Lebanon akan memasuki tiga desa (Zoutar al-Gharbiya, Srifa, dan Froun) sebagai zona uji coba. Jika pihak Zionis mengonfirmasi bahwa pelucutan senjata Perlawanan dan penghancuran infrastrukturnya telah dilakukan oleh Militer Lebanon, mereka akan melaksanakan rencana ini di desa-desa lainnya.
Hal ini terjadi meskipun desa Froun dan Zoutar al-Gharbiya pada dasarnya tidak berada di bawah pendudukan, sehingga dimasukkannya desa-desa tersebut ke dalam zona uji coba mendapat kritik keras di dalam negeri Lebanon, terutama dari warga desa setempat.
Rencana ini dimulai di saat Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio pada Senin kemarin secara eksplisit menyatakan bahwa Militer Israel tidak akan menarik diri dari selatan Lebanon sampai seluruh persenjataan Hizbullah dilucuti.
