Eks Penasihat Gedung Putih: Trump Menjerumuskan AS ke dalam Kebuntuan Strategis
POROS PERLAWANAN – Mantan penasihat Gedung Putih untuk Timur Tengah, Philip Gordon, menilai Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah menjerumuskan negaranya ke dalam kebuntuan strategis setelah memutuskan melancarkan serangan terhadap Iran.
Dikutip IRNA dari artikel Gordon yang dimuat majalah Foreign Policy pada Jumat (24/7/2026), anggota Council on Foreign Relations (CFR) itu menyebut perang yang diprakarsai Trump telah menyeret Amerika Serikat ke dalam situasi strategis yang nyaris tidak menyisakan pilihan selain berbagai bentuk kegagalan yang merugikan.
Menurut Gordon, tidak ada jalan keluar yang benar-benar menguntungkan bagi Washington dari kebuntuan tersebut. Namun, ia menilai masih ada satu opsi yang dapat meminimalkan kerugian.
Ia menyarankan agar Amerika Serikat memberikan konsesi ekonomi yang signifikan kepada Iran, membuka kembali Selat Hormuz bagi pelayaran internasional, serta mempercepat upaya mengurangi ketergantungan terhadap jalur pelayaran strategis itu.
Sebelumnya, Gordon juga menyatakan bahwa apabila Washington tidak menginginkan Iran mengendalikan Selat Hormuz, seharusnya tidak menyetujui dokumen yang menyebut Republik Islam Iran akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjamin pelayaran kapal secara aman di selat tersebut.
Menurut IRNA, Amerika Serikat kembali melancarkan serangan terhadap Iran pada 7 Juli 2026 setelah menuduh Teheran menyerang sejumlah kapal yang melintas di bagian selatan Selat Hormuz. Washington juga kembali memberlakukan blokade maritim pada 23 Juli 2026.
Presiden Donald Trump kemudian menyatakan tidak lagi terikat pada kesepahaman sebelumnya dengan Iran dan menegaskan bahwa gencatan senjata telah berakhir.
Dimulainya kembali operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran, disertai serangan balasan Teheran ke pangkalan-pangkalan AS yang disebut sebagai titik awal agresi, kembali menjadikan Selat Hormuz sebagai pusat perhatian dunia dalam eskalasi konflik kedua negara.
Sementara itu, Washington menyatakan kehadiran militernya di kawasan bertujuan menjaga kebebasan pelayaran. Di sisi lain, Iran menegaskan keamanan Selat Hormuz harus dijamin melalui kerja sama negara-negara pesisir tanpa campur tangan militer kekuatan asing.
