Loading

Ketik untuk mencari

Iran

Narasi Jurnalis Inggris tentang Persatuan Bangsa dan Pemerintah Iran Menghadapi Amerika

POROS PERLAWANAN – Suleiman Ahmed, seorang jurnalis Inggris yang baru saja mengunjungi Iran dan menyaksikan langsung suasana perpisahan masyarakat negara itu dengan Syahid Imam Ali Khamenei, mengungkapkan pandangan mendalam mengenai dinamika di dalam negeri Iran. Ia menilai, Pemerintah dan rakyat Iran berada dalam koordinasi serta harmoni yang sempurna, dengan tekad bulat untuk meraih kemenangan yang menentukan dalam perang yang sedang berlangsung.

Dilansir Fars, Ahmed menggambarkan respons Iran—baik di arena media maupun di medan pertempuran—sebagai tindakan yang masuk akal, bijaksana, dan memiliki tujuan jelas. Ia menekankan bahwa tidak ada celah di dalam sistem Pemerintahan Iran maupun di antara rakyatnya. Keduanya sepakat untuk menuntut pembalasan dan kemenangan yang nyata.

Ia menjelaskan bahwa Iran memosisikan dirinya dalam kerangka pertahanan, dan sepenuhnya siap menghadapi agresi apa pun dari pihak Amerika Serikat maupun Israel.

Mengenai peran Ansarallah, Ahmed berpendapat bahwa tindakan mereka didasarkan pada keputusan yang sepenuhnya independen demi kepentingan rakyat Yaman. Mereka berhasil mematahkan blokade yang dipaksakan oleh Arab Saudi dengan bantuan Amerika dan Israel. Meskipun tindakan Ansarallah di Bab el-Mandeb dan Laut Merah selaras dengan operasi Iran, tujuan utamanya adalah menekan Saudi dan melindungi kepentingan Yaman.

Menurut Ahmed, pendekatan media Iran sangat defensif dan dapat dipertanggungjawabkan. Ia menanggapi persepsi mengenai lambatnya reaksi resmi Iran terhadap posisi Amerika-Israel. Menurutnya, hal ini terjadi karena setiap pernyataan resmi harus melalui proses verifikasi berlapis di berbagai tingkat untuk memastikan akurasi dan kredibilitas. Hal ini sangat kontras dengan perilaku Donald Trump yang sering mengeluarkan pernyataan kontradiktif demi memanipulasi pasar keuangan tanpa memedulikan keakuratan.

Secara garis besar, Ahmed merangkum pendekatan Iran sebagai berikut:

1. Iran selalu siap membela diri dari agresi terbuka
2. Iran tetap membuka pintu untuk negosiasi yang menghasilkan hasil nyata.
3. Keinginan untuk damai tidak boleh disalahartikan sebagai tanda kelemahan.

Dilema Strategis Israel

Ahmed meyakini bahwa Iran sedang mempersiapkan operasi militer yang lebih luas dan berbeda dari sebelumnya, dengan menggunakan lebih banyak rudal serta taktik baru. Persiapan ini telah dilakukan jauh hari dengan melemahkan jaringan pertahanan regional Israel. Dengan menargetkan sistem radar, pangkalan udara, logistik, dan fasilitas penyimpanan bahan bakar di negara-negara seperti Yordania, Bahrain, Kuwait, dan Qatar, Iran bertujuan untuk:

1. Mengurangi waktu peringatan dini bagi Israel.
2. Membatasi kemampuan intersepsi rudal.
3. Membuka jalur bagi serangan potensial ke wilayah Israel.

Kondisi ini menempatkan Israel dalam dilema. Mereka ingin meningkatkan tekanan terhadap Iran, tetapi menyadari bahwa serangan langsung akan memicu respons besar yang tidak lagi memiliki “perisai” pertahanan regional yang memadai. Inilah alasan mengapa Israel menghindari keterlibatan langsung.

Analisis Mengenai Amerika Serikat

Dalam pandangan Ahmed, Iran terus memantau cadangan strategis minyak, harga energi, dan tingkat pengikisan amunisi serta sistem intersepsi Amerika Serikat. Teheran meyakini bahwa dalam Perang 40 Hari lalu, mereka berhasil mengungguli Amerika dengan melemahkan pangkalan dan sistem pertahanan mereka.

Meskipun skeptis terhadap komitmen Amerika, Ahmed menilai Iran tidak sepenuhnya menutup jalur diplomasi. Mereka menggunakan pengikisan kemampuan ekonomi dan militer Amerika sebagai daya tawar, namun menyadari bahwa selama Washington tidak mampu atau tidak mau memenuhi komitmennya, kesepakatan jangka panjang sulit dicapai.

Kemajuan Teknologi Militer Iran

Ahmed membantah klaim bahwa kemampuan militer Iran melemah. Sebaliknya, ia menyoroti bahwa Iran telah memperbarui cadangan rudal dan drone mereka selama periode gencatan senjata. Beberapa poin teknis yang ia catat adalah:

1. Penggunaan sistem navigasi Tiongkok, BeiDou, meningkatkan presisi serangan secara signifikan.
2. Peningkatan kemampuan rudal untuk mengubah jalur penerbangan, yang menyulitkan sistem pertahanan lawan untuk menghitung titik sasaran.
3. Data yang dikumpulkan menunjukkan bahwa kemampuan pertahanan Amerika dan sekutunya sedang mengalami degradasi, sementara serangan Iran menjadi semakin kompleks dan akurat.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *