The Guardian: Pentagon Menyensor Data Korban Militer AS dalam Perang Iran
POROS PERLAWANAN – Harian Inggris The Guardian melaporkan bahwa Pentagon menghadapi sorotan tajam setelah dituduh sengaja membatasi informasi mengenai korban jiwa dan kerugian militer Amerika Serikat dalam perang melawan Iran. Kebijakan tersebut memicu kontroversi di kalangan media AS yang menilai pemerintah berupaya menutupi biaya sesungguhnya dari konflik.
Mengutip Mehr News Agency, Minggu (26/7/2026), The Guardian menulis bahwa media-media Amerika mempertanyakan kebijakan Departemen Pertahanan AS yang dinilai secara sistematis membatasi akses publik terhadap informasi mengenai korban perang.
Laporan itu dibuka dengan pernyataan Leon Panetta, mantan Menteri Pertahanan AS sekaligus mantan Direktur CIA, yang menyebut penanganan Pentagon terhadap informasi korban perang sebagai “pendekatan yang memalukan.” Menurutnya, pemerintah berkewajiban memberi tahu masyarakat mengenai biaya nyata dari setiap perang yang dijalankan.
Panetta mengungkapkan bahwa Pentagon telah hampir dua setengah bulan tidak menggelar konferensi pers. Para pengamat menilai kondisi itu mencerminkan perubahan mendasar dalam kebijakan komunikasi pemerintah terhadap media.
Departemen Pertahanan AS juga dituduh membatasi arus informasi terkait perang karena khawatir meningkatnya kemarahan publik menjelang pemilu sela (midterm elections).
Menurut laporan tersebut, konflik memasuki fase yang lebih rumit setelah gencatan senjata yang rapuh antara Amerika Serikat dan Iran runtuh, disusul kembali berlangsungnya serangan militer harian. Situasi itu meningkatkan kekhawatiran bahwa konflik akan berubah menjadi perang berkepanjangan dengan biaya yang sangat besar, bertentangan dengan janji kampanye Presiden Donald Trump untuk menghindari “perang tanpa akhir”.
Laporan itu menyebut sedikitnya 18 tentara Amerika tewas dan ratusan lainnya terluka. Namun, angka korban tersebut baru diakui Pentagon setelah lebih dahulu beredar luas di media sosial, sehingga memicu tudingan bahwa pemerintah sengaja menunda penyampaiannya kepada publik.
Sejumlah pengamat menilai pemerintah menyadari bahwa kombinasi tingginya biaya perang, kenaikan harga bahan bakar, inflasi, dan bertambahnya korban jiwa berpotensi menggerus dukungan publik terhadap perang sekaligus memengaruhi posisi politik pemerintahan.
The Guardian juga menyoroti meningkatnya ketegangan antara Pentagon dan media. Departemen Pertahanan disebut mengambil langkah-langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya, termasuk mencabut fasilitas sejumlah media besar di kompleks Pentagon serta memberikan akses yang lebih luas kepada media yang dinilai lebih dekat dengan pemerintah.
Selain itu, Pentagon memperketat aturan peliputan dengan mewajibkan wartawan didampingi petugas resmi selama berada di dalam gedung.
Laporan tersebut juga menyoroti beban ekonomi perang yang telah mencapai puluhan miliar dolar, sementara pemerintah terus menghadapi tekanan dari Kongres akibat permintaan tambahan anggaran tanpa disertai strategi yang jelas untuk mengakhiri konflik.
Menutup laporannya, The Guardian mengutip pernyataan Panetta bahwa upaya membatasi informasi mungkin hanya dapat menunda terungkapnya fakta, tetapi tidak akan mampu menghalangi kebenaran untuk muncul.
“Upaya membatasi informasi mungkin menunda munculnya kebenaran, tetapi tidak akan pernah dapat mencegahnya. Pers akan terus mencari fakta, dan pada akhirnya kebenaran akan selalu terungkap,” ujar Panetta.
