Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Tiga Warisan Trump dari Perang Iran: Utang Membengkak, Cadangan Minyak dan Senjata Menipis

POROS PERLAWANAN – Anggota Kongres Amerika Serikat dari Partai Republik, Thomas Massie, melontarkan kritik keras terhadap kebijakan Presiden Donald Trump dalam perang melawan Iran. Menurutnya, hampir lima bulan perang hanya meninggalkan tiga dampak besar bagi Amerika Serikat: cadangan minyak strategis yang terus menyusut, persediaan persenjataan yang terkuras, serta utang negara yang semakin membengkak.

Menurut laporan harian Kayhan pada Senin (27/7/2026), Massie mengatakan Amerika Serikat telah menguras persediaan rudalnya, menghabiskan cadangan minyak strategis, dan menambah beban utang negara akibat perang yang, menurutnya, dijalankan demi kepentingan Israel.

Ia menilai perang tersebut justru melemahkan posisi Amerika Serikat tanpa menghasilkan sasaran strategis yang dijanjikan.

Kritik Massie muncul di tengah meningkatnya sorotan media Amerika terhadap dampak perang terhadap kesiapan militer Washington. CNN sebelumnya melaporkan bahwa dalam rapat keamanan terbaru, Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine kembali memperingatkan Trump mengenai menipisnya stok amunisi dan risiko apabila operasi militer terhadap Iran terus berlanjut. Para petinggi militer disebut khawatir kondisi tersebut akan memengaruhi kemampuan Amerika mempertahankan daya tangkalnya di kawasan lain.

Laporan senada dimuat The Wall Street Journal, yang menyebut persediaan rudal Amerika mengalami penurunan signifikan setelah hampir lima bulan perang. Menurut laporan itu, pemulihan stok amunisi presisi, termasuk rudal serang dan rudal pertahanan udara, diperkirakan memerlukan waktu antara tiga hingga enam tahun meski kapasitas produksi ditingkatkan.

Sorotan juga mengarah pada cadangan minyak strategis Amerika Serikat. Sejumlah laporan menyebut stok minyak strategis kini berada di kisaran 311 juta barel, level terendah sejak 1983. Sebagai perbandingan, cadangan tersebut masih melampaui 612 juta barel pada 2021 dan pernah mencapai sekitar 727 juta barel pada masa puncaknya.

Perang itu juga disebut memberi tekanan besar terhadap kondisi fiskal Amerika Serikat. Biaya operasi militer, pengerahan pasukan, penggunaan amunisi berteknologi tinggi, serta pendanaan operasi jangka panjang disebut mempercepat kenaikan utang nasional. Sejumlah analis memperkirakan total biaya perang dapat melampaui US$1 triliun.

Sementara itu, majalah The Atlantic menilai Trump menghadapi dilema strategis karena belum mampu memaksa Iran membuka kembali Selat Hormuz melalui kekuatan militer. Menurut majalah tersebut, Washington kini dihadapkan pada tiga pilihan: melanjutkan perang dengan konsekuensi ekonomi yang semakin berat, memperluas konflik dengan risiko yang lebih besar, atau mengakhiri keterlibatan militernya.

Analisis The New York Times juga menyebut hampir seluruh tujuan utama operasi militer Amerika terhadap Iran belum tercapai. Surat kabar itu menilai Trump kini menghadapi keterbatasan yang sebelumnya tidak diperhitungkan dan harus memilih antara meningkatkan operasi militer, memperketat tekanan ekonomi, atau mengakhiri perang dengan mengklaim kemenangan.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *