Loading

Ketik untuk mencari

Asia Barat

Aksi Demo Ratusan Warga Turki Kecam Langkah Erdogan Kirim Senjata ke Israel

POROS PERLAWANAN – Ratusan warga Turki yang tergabung dalam Gerakan Tenda Perlawanan dan Pawai Menuju Palestina menggelar aksi protes di depan pelabuhan kota Mersin, Turki. Mereka menentang rencana masuknya kapal Maersk yang mengangkut komponen senjata pesawat tempur F-35 yang diduga akan dikirim ke Israel.

Para demonstran mendesak Pemerintah Turki untuk menyita persenjataan tersebut. Informasi mengenai aksi protes ini disampaikan oleh seorang aktivis pro-Palestina Turki, Kamil Kahili, kepada Kantor Berita Farsnews pada Minggu 27 April.

Protes Pengiriman Senjata

“Pembantaian brutal yang menargetkan hak hidup hampir dua juta warga Palestina di Jalur Gaza terus berlanjut dengan dukungan militer dari Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya melalui Israel,” demikian bunyi pernyataan resmi Gerakan tersebut.

Para pengunjuk rasa menegaskan bahwa sementara Gaza terus dibombardir, perusahaan dan pemerintah yang terlibat dalam pengiriman senjata ke Israel harus diungkap dan mesti dituntut pertanggungjawaban.

Mersin sebagai Bagian Rantai Pasokan

Dalam pernyataannya, para pengunjuk rasa menyoroti dua perusahaan pelayaran dan kontainer utama yang mereka klaim memberikan dukungan logistik kepada Israel: Maersk dan ZIM. Para demonstran mengkritik kebebasan beroperasi kedua perusahaan tersebut di pelabuhan dan jalan-jalan Turki.

“Perusahaan Maersk, sebagai bagian dari rantai pasokan yang mendukung operasi militer di Gaza, mengangkut peralatan terkait pesawat tempur F-35,” kata mereka.

Menurut para demonstran, “Pelabuhan Mersin telah menjadi bagian dari rantai distribusi ini. Kami tidak akan mengizinkannya. Kita harus menyelamatkan Mersin dari menjadi pelabuhan yang mendukung kekerasan di Gaza.”

Jadwal Pengiriman Komponen F-35

Berdasarkan informasi yang disampaikan kelompok tersebut, kapal Maersk Detroit dan Nexoe Maersk milik perusahaan logistik Denmark, Maersk, telah menetapkan rute untuk mengangkut komponen pesawat F-35 dari fasilitas Lockheed Martin di AS ke Pelabuhan Haifa, dengan Mersin sebagai persinggahan dalam perjalanan tersebut.

Kapal Nexoe Maersk dijadwalkan tiba di Mersin pada 28 April 2025 atau, berdasarkan informasi terbaru, 1 Mei, sebelum melanjutkan perjalanan ke Pelabuhan Haifa.

“Jika Nexoe Maersk diizinkan bersandar di Mersin dan melanjutkan perjalanannya, siapa pun yang memberi izin atau tidak mengambil tindakan akan turut bertanggung jawab dalam krisis kemanusiaan di Palestina,” tegas kelompok tersebut.

Dasar Hukum Internasional

Para pengunjuk rasa juga menyinggung kerangka hukum internasional sebagai dasar tuntutan mereka, dan menyebutkan Resolusi Majelis Umum PBB pada 18 September 2024 yang meminta semua negara menghentikan pengiriman senjata dan peralatan militer ke Israel.

Kelompok tersebut juga mengutip Konvensi Pencegahan Genosida yang mendefinisikan penyediaan senjata kepada pihak yang melakukan pelanggaran HAM sebagai keterlibatan dalam kejahatan menurut hukum internasional, serta Perjanjian Perdagangan Senjata (ATT) yang mewajibkan negara-negara untuk mencegah pengiriman kargo yang dapat mengakibatkan jatuhnya korban sipil.

Tuntutan Konkret

Kelompok demonstran mengajukan beberapa tuntutan konkret, di antaranya:

1. Kapal Nexoe Maersk harus dihentikan, komponen F-35 disita, dan kapal dilarang melanjutkan perjalanan ke Israel.

2. Pemerintah Turki harus memulai sanksi militer (terhadap Israel) sebagai langkah pertama menuju embargo total.

3. Buruh pelabuhan Mersin diminta untuk tidak memuat atau membongkar muatan kapal tersebut.

“Warga Mersin dan provinsi sekitarnya harus bersuara lantang menentang kargo ini, mendukung protes di pelabuhan, dan turun ke jalan,” seru Gerakan tersebut.

Gerakan Serupa di Negara Lain

Para pengunjuk rasa menyebutkan bahwa sebelumnya kapal Maersk Detroit tiba di Maroko pada 20 April, dan mendapat penolakan dari warga serta buruh pelabuhan Maroko. Mereka juga menyoroti bahwa Spanyol telah menolak kapal tersebut di pelabuhannya, sementara buruh pelabuhan Prancis juga melakukan demonstrasi serupa.

Tuntutan terhadap Perusahaan Maersk dan ZIM

Dalam pernyataannya, mereka mendesak Kementerian Perhubungan Turki untuk menghentikan pengiriman kargo perusahaan Maersk, terutama komponen F-35 ke Mersin, serta melarang perusahaan Maersk dan ZIM beroperasi di pelabuhan Turki.

Mereka menyebutkan bahwa ZIM memiliki kaitan historis dengan pembentukan Israel, dengan pendirinya termasuk Menteri Transportasi pertama Israel, David Remez, dan Presiden pertama Israel, Chaim Weizmann.

“Sejak 1947, ZIM memainkan peran utama dalam logistik maritim Israel, dengan fokus pada kebutuhan militer. Setelah konflik baru-baru ini, CEO ZIM Eli Glickman menyatakan bahwa mereka akan memastikan semua kebutuhan Pemerintah dan Kementerian Pertahanan Israel terpenuhi dari seluruh dunia,” demikian pernyataan para pengunjuk rasa.

Mereka menambahkan bahwa Malaysia telah mencabut izin operasi ZIM di pelabuhannya, namun ZIM masih bebas beroperasi di Turki.

Tuntutan Akhir terhadap Pemerintah Turki

Di akhir pernyataannya, kelompok demonstran menuntut Pemerintah Turki untuk segera mencabut radar NATO di Kurecik, memutus semua hubungan dengan Israel, dan menghentikan pengakuan terhadap “negara” tersebut.

Tags: