Loading

Ketik untuk mencari

Afrika

Al-Azhar Getol Salahkan Iran, Bungkam Soal Serangan AS–Israel ke Teheran

POROS PERLAWANAN — Al-Azhar melontarkan kecaman keras terhadap Iran atas serangan yang menurutnya ditujukan ke negara-negara Teluk dan kawasan Arab, namun lebih memilih bungkam atas serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran dalam pernyataan resmi yang sama.

Pernyataan resmi yang dirilis melalui akun X pada Rabu 18 Maret menyoroti serangan yang katanya menyasar Uni Emirat Arab, Bahrain, Qatar, Kuwait, Arab Saudi, dan Oman. Dampak konflik juga disebut meluas ke negara lain seperti Yordania, Irak, Turki, dan Azerbaijan. (https://x.com/AlAzhar/status/2033992377983959514)

Al-Azhar meminta Iran menghentikan agresi militer dan menghormati kedaulatan negara-negara di Kawasan, baik secara langsung maupun tidak langsung, guna melindungi warga sipil yang tidak terlibat dalam konflik.

“Penargetan kawasan permukiman, bandara, rumah sakit, dan fasilitas energi merupakan pelanggaran berat hukum humaniter internasional”, tulis Al-Azhar dalam pernyataan tersebut.

Lembaga tersebut menegaskan prinsip perlindungan jiwa dalam ajaran Islam dengan mengutip ayat Al-Qur’an: “Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah melainkan dengan alasan yang benar” (QS Al-Isra: 33). Selain itu, dikutip sabda Nabi Muhammad s.a.w: “Setiap Muslim atas Muslim lainnya haram: darahnya, hartanya, dan kehormatannya.”

Al-Azhar menilai serangan terhadap objek sipil mencerminkan pelanggaran serius terhadap nilai kemanusiaan dan prinsip syariat. Lembaga tersebut juga mendorong langkah konkret untuk menghentikan eskalasi serta mencegah meluasnya konflik.

Selain itu, Al-Azhar menyambut upaya kepemimpinan Mesir dalam mendorong penghentian operasi militer dan menyerukan peran aktif komunitas internasional untuk mengedepankan dialog serta menjaga stabilitas Kawasan.

Di akhir pernyataan, Al-Azhar menyampaikan belasungkawa kepada korban dan keluarga terdampak konflik, serta menyerukan perlindungan bagi warga sipil.

Di tengah kecaman keras terhadap Iran, pernyataan Al-Azhar tidak memuat satu pun rujukan terhadap serangan Amerika Serikat dan Israel ke Teheran.

Ketiadaan itu bukan soal detail yang terlewat.

Di satu sisi, Al-Azhar menegaskan prinsip perlindungan jiwa dan kedaulatan negara. Di sisi lain, prinsip yang sama tidak muncul ketika pelanggaran dilakukan oleh aktor yang berbeda.

Kontras ini menempatkan sikap Al-Azhar dalam sorotan, bukan hanya sebagai pernyataan keagamaan, melainkan juga sebagai posisi yang dibaca publik.

Dalam konteks konflik yang semakin terbuka, konsistensi menjadi ukuran kredibilitas. Karena itu, ketika standar ganda diterapkan secara selektif, pesan moral kehilangan daya ikatnya.

Dalam geopolitik, diam jarang benar-benar netral, bahkan lebih sering, diam terbaca sebagai posisi memihak.

Tags: