Tindakan Rasis dan Biadab Polisi AS Bunuh Warga Kulit Hitam, Picu Protes Keras Warga di Dunia Maya

Protesters gather near the Minnesota Police 3rd Precinct during a gathering Tuesday, May 26, 2020, in response to the death the day before of George Floyd in police custody. Four Minneapolis officers involved in the arrest of Floyd, a black man who died in police custody, were fired Tuesday, hours after a bystander???s video showed an officer kneeling on the handcuffed man???s neck, even after he pleaded that he could not breathe and stopped moving. (Richard Tsong-Taatarii/Star Tribune via AP)

Share

POROS PERLAWANAN – Harian Washington Post memuat artikel di rubrik Editorial berjudul “Another Unarmed Black Man Has Died at the Hands of Police, When Will it End?” Harian ini menulis, ”Satu lagi, seorang warga kulit hitam tak bersenjata tewas di tangan polisi. Kapankah hal ini akan berakhir”

Dilansir Fars, pada Senin sore 25 Mei lalu di Minneapolis, seorang opsir polisi dengan lututnya menduduki leher seorang pria kulit hitam yang tengkurap dengan tangan terborgol. Pria bernama George Floyd itu dengan susah payah mencoba memberitahu bahwa ia tak bisa bernapas. Namun ucapan Floyd diabaikan opsir itu hingga ia tewas.

Floyd (40 tahun) dituduh sebagai pemalsu dokumen. Polisi menjustifikasi tindakan kasarnya dengan mengatakan bahwa Flyod mengonsumsi alkohol dan melawan saat ditangkap. Namun polisi tidak menunjukkan bukti apa pun untuk klaimnya.

Dalam video yang diambil seorang saksi mata, opsir polisi itu tidak memedulikan upaya Floyd untuk mengambil napas. Dia juga mengabaikan permintaan para saksi agar melepaskan Floyd.

Video itu menunjukkan, orang-orang memberitahu opsir itu bahwa hidung Floyd berdarah dan dia tak bisa bernapas. Bahkan ketika ambulans datang dan awak medis mengecek urat nadi Floyd, opsir itu tetap tak menunjukkan belas kasihan. Dia baru mengangkat lututnya saat Floyd tampak pingsan dan ditaruh di atas tandu.

Opsir itu dan tiga rekannya telah dipecat pada hari Selasa kemarin. FBI sedang menyelidiki kasus yang memicu protes keras warga AS di dunia maya ini.

Berdasarkan riset, tahun lalu Polisi AS telah membunuh 1099 orang di negara tersebut, dan 24 persen dari mereka merupakan warga kulit hitam AS.

Wali Kota Minneapolis, Jacob Frey, tanpa tedeng aling-aling menyatakan, ”Status sebagai kulit hitam tak boleh dijadikan alasan untuk hukuman mati di AS. Kita melihat bagaimana seorang opsir kulit putih menekankan lututnya pada leher seorang warga kulit hitam.”

Washington Post menyebut statemen polisi bahwa “Floyd meninggal karena insiden medis saat ditangkap polisi” sebagai hal yang menggelikan.