Analis AS: Rakyat Iran Siap Hadapi Perang Apa pun yang Mungkin Terjadi
POROS PERLAWANAN – Dalam sebuah artikel analitis, seorang peneliti senior untuk Timur Tengah di Council on Foreign Relations, Ray Takeyh mengkaji implikasi dari pemulihan sanksi dan pemberlakuan kembali resolusi Dewan Keamanan PBB terhadap Iran. Dia menjelaskan bahwa Iran berhasil mengelola perang dengan baik dan bahwa masyarakat Iran kini siap menghadapi perang apa pun yang mungkin terjadi.
Dilansir Fars, Takeyh menegaskan bahwa meskipun Eropa dan AS menginginkan pengayaan uranium nol persen di Iran dan berusaha meyakinkan Tehran untuk masuk ke dalam negosiasi mengenai program misilnya, jelas bahwa tidak ada pihak di Negeri Mullah yang akan mundur dari pengayaan uranium atau setuju untuk bernegosiasi mengenai program misil. Oleh karena itu, kata Takeyh, negosiasi apa pun pasti akan berakhir buntu.
Resolusi-resolusi PBB Disahkan untuk Batasi Diplomasi Iran
Dalam artikelnya, Takeyh menekankan bahwa kembalinya sanksi Dewan Keamanan PBB dimaksudkan untuk menekan Iran di front diplomatik, terutama karena tindakan ini diambil menyusul periode ketegangan militer yang intens, termasuk serangan langsung oleh Israel dan AS terhadap Iran. Takeyh mengeklaim bahwa setelah serangan-serangan tersebut, Iran tetap menyatakan kesiapannya untuk bernegosiasi dengan Barat dan Badan Energi Atom Internasional (IAEA), bahkan masuk ke dalam negosiasi mengenai program kerja baru dengan Badan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa kekhawatiran utama Tehran adalah kemungkinan kembalinya resolusi Dewan Keamanan, yang pada akhirnya menjadi kenyataan dan tampaknya semakin membatasi ruang gerak diplomatik Iran.
Sanksi-sanksi ini Menargetkan Tujuan Keamanan, Bukan Hanya Tujuan Ekonomi
Takeyh menekankan bahwa sanksi-sanksi yang diberlakukan kembali lebih bersifat keamanan daripada ekonomi. Kembalinya embargo senjata konvensional, larangan transfer teknologi vital nuklir dan rudal, serta otorisasi untuk memeriksa muatan yang keluar masuk Iran, merupakan tanda-tanda peningkatan tekanan keamanan terhadap Tehran.
Di sisi lain, Takeyh mencatat bahwa penolakan Rusia dan China terhadap mekanisme snapback akan berarti kedua negara tersebut semakin mendekati Iran. China terus membeli sebagian besar minyak ekspor Iran. Menurut Takeyh, situasi ini dapat terus berlanjut tanpa hambatan.
Iran Takkan Mundur dari Garis Merahnya
Namun, bagian penting dari catatan ini didedikasikan untuk prospek yang semakin pudar dalam negosiasi nuklir. Di bagian ini, Takeyh mencatat bahwa “pengayaan nol persen” tidak lagi hanya menjadi tuntutan AS, tetapi kini menjadi posisi resmi Pemerintah-pemerintah Eropa. Dengan dihidupkannya kembali resolusi Dewan Keamanan, Eropa dan AS akan memberikan tekanan intensif terhadap Iran untuk menghentikan pengayaan uranium di dalam negeri.
Dia mencatat bahwa Pemerintahan Trump, dengan menarik diri dari JCPOA, berusaha memasukkan tuntutan ini ke dalam perjanjian. Namun, Iran tetap bersikeras pada garis merah mereka dan sama sekali tidak berniat untuk mundur dari pengayaan. Mereka juga menolak negosiasi apa pun mengenai pembatasan program misil mereka. Mengacu pada posisi eksplisit pejabat Iran, Takeyh menyimpulkan bahwa bahkan jika negosiasi baru antara Tehran dan Washington dimulai, negosiasi tersebut pasti dan cepat akan menemui kebuntuan.
Tak Satu pun Pihak di Iran yang Tertarik pada Kesepakatan
Pada akhirnya, Takeyh menekankan bahwa meskipun menghadapi tekanan militer dan sanksi, sistem politik Iran berhasil mengelola perang dengan baik. Meskipun kehilangan beberapa tokoh kunci, sistem tersebut dengan cepat menunjuk pengganti mereka dan mempertahankan kendali internal. Selain itu, bertentangan dengan banyak asumsi, Iran tidak terjebak dalam siklus konflik luas dan ketidakstabilan internal. Menurutnya, ruang publik negara tersebut, dengan tetap menjaga soliditas, siap menghadapi konfrontasi militer baru.
Pada akhirnya, penulis menyimpulkan bahwa gagasan menukar konsesi nuklir dengan pencabutan sanksi tidak lagi menarik struktur kekuasaan Iran. Kecuali segelintir pihak, tidak ada yang mendukung gagasan tersebut.
