Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

Analis Mossad: Solidaritas Masyarakat Israel Telah Runtuh

POROS PERLAWANAN — Seorang analis senior intelijen yang bekerja untuk Mossad mengakui bahwa Dinas Keamanan Israel telah gagal mencegah warganya menjadi mata-mata bagi Iran. Ia menilai kegagalan ini terjadi karena runtuhnya solidaritas sosial di tengah masyarakat Israel.

Pakar intelijen dan spionase yang telah menulis sejumlah buku tentang Mossad, Yossi Melman mengungkapkan hal tersebut dalam artikelnya di Haaretz seperti dikutip oleh koran Kayhan pada Selasa 22 Juli. Ia menyebut bahwa sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, agen-agen intelijen Iran telah berhasil menghubungi sekitar 1.000 warga Israel melalui media sosial untuk tujuan spionase.

Melman merujuk pada kampanye kontra-spionase terbaru bertajuk “Uang Mudah, Harga Mahal”, yang telah disiarkan secara luas di media Israel sejak pekan lalu. Dalam laporannya, ia menulis bahwa sebagian dari individu yang telah diadili karena dugaan spionase merupakan bagian dari jaringan kontak tersebut. Namun, dari sekitar 1.000 warga yang dihubungi, hanya sebagian kecil yang benar-benar terlibat aktif dalam kegiatan mata-mata.

Selama dua tahun terakhir, Badan Keamanan Dalam Negeri Israel, Shin Bet, telah berusaha keras memerangi fenomena baru ini: ratusan warga Israel yang bersedia berkomunikasi dengan intelijen Iran. Meskipun Shin Bet berhasil menangkap beberapa tersangka yang benar-benar terlibat dalam spionase, lembaga itu dinilai gagal menjalankan misi utamanya, mencegah terjadinya infiltrasi sejak awal.

Dalam wawancaranya dengan Radio Farda, Melman menyampaikan keraguan terhadap efektivitas kampanye kontra-spionase tersebut. Ia menilai bahwa maraknya kasus spionase ini merupakan cerminan dari kehancuran solidaritas dan kohesi sosial di Israel.

Menurutnya, para tersangka dalam dua tahun terakhir datang dari latar belakang yang sangat beragam: lansia dan pemuda, warga sipil dan tentara, penganut ultra-Ortodoks dan sekuler, Yahudi Ashkenazi dan Sephardi, imigran baru, laki-laki maupun perempuan, termasuk warga Arab Israel. Satu hal yang menyatukan mereka, kata Melman, adalah keserakahan terhadap uang.

Ia juga mencatat bahwa sebagian besar individu tersebut tidak memiliki akses ke informasi rahasia, sehingga kerusakan akibat tindakan mereka relatif kecil. Pada awalnya, Shin Bet menduga bahwa hanya warga yang terpinggirkan secara sosial yang menjadi sasaran. Namun, dalam beberapa waktu terakhir, semakin banyak warga dari latar belakang lebih mapan yang juga terlibat, bahkan saat konflik Israel-Iran sedang berlangsung.

Media Israel turut melaporkan bahwa seorang tentara yang hadir dalam sidang pengadilan militer pada 16 Juli lalu, dan didakwa melakukan spionase untuk Iran, merupakan anggota unit rahasia dengan misi sensitif yang memerlukan izin keamanan tingkat tinggi. Tentara tersebut diduga mengirimkan gambar hasil intersepsi dan merekam lokasi jatuhnya roket di wilayah Israel.

Selain itu, seorang guru perempuan Israel juga telah ditangkap atas tuduhan melakukan spionase untuk Iran. Ia ditugaskan mengambil gambar jet-jet tempur di pangkalan udara Navatim selama konflik bersenjata 12 hari tersebut.

Sementara itu, menurut laporan situs Iran International, pascaserangan rudal Iran dan terungkapnya serangan terhadap sejumlah pusat strategis Israel, para pejabat Zionis dikejutkan oleh fakta bahwa puluhan warga Yahudi kelahiran Israel terlibat sebagai mata-mata. Mereka dituduh mengumpulkan informasi dan mengidentifikasi target-target sensitif bagi Iran.

Tags: