Haaretz: Strategi Israel Bergeser dari Mencegah Terwujudnya Negara Palestina ke Operasi Genosida
POROS PERLAWANAN — Surat kabar berbahasa Ibrani, Haaretz mengakui bahwa kebijakan Israel terhadap Palestina telah mengalami transformasi radikal, dari upaya mencegah terbentuknya negara Palestina menjadi operasi genosida sistematis di Jalur Gaza.
Dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh Haaretz, seorang akademisi dan penulis Israel, Maya Rosenfeld, yang pernyataannya dilansir Tasnimnews pada Selasa 22 Juli, menyatakan bahwa tidak ada kejahatan perang yang lebih buruk daripada tindakan tentara Israel yang menembaki warga sipil Palestina yang kelaparan dan terkepung saat mereka tengah berusaha menerima bantuan makanan.
“Kami yang selalu menyuarakan agar dunia tidak melupakan Holocaust, kini justru melakukan tindakan yang mencerminkan kekejaman serupa: menembaki orang-orang tak berdaya yang hanya ingin memberi anak-anak mereka sepotong roti”, tulis Rosenfield.
“Ketika pelakunya adalah tentara Israel, dan korbannya adalah warga Gaza, yang rumah dan kotanya telah dihancurkan, tenda-tendanya dibakar, maka kekejaman itu seolah dikecualikan”, lanjutnya dengan nada penuh kritik.
Lebih jauh, artikel tersebut menyoroti bahwa kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh Militer Israel di Gaza merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional. Haaretz menegaskan bahwa lembaga-lembaga internasional, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sebenarnya memiliki alat hukum dan diplomatik yang cukup untuk mencegah kekejaman tersebut, namun gagal melakukannya karena satu hal: Hak Veto Amerika Serikat di Dewan Keamanan PBB.
“Dewan Keamanan telah dilumpuhkan”, tulis artikel itu.
Dari Pencegahan Negara Palestina Menuju Pemusnahan Bangsa Palestina
Artikel tersebut juga menggarisbawahi perubahan menyeluruh dalam strategi militer dan politik Israel sejak awal konflik. Dalam 21 bulan terakhir, perang yang semula disebut bertujuan mencegah berdirinya negara Palestina, kini berubah menjadi upaya menghapus keberadaan rakyat Palestina itu sendiri.
“Kita sedang menyaksikan transisi dari kebijakan pencegahan politik menjadi proyek pemusnahan etnis”, tulis Rosenfield dengan tegas.
Bahkan, ancaman genosida ini tidak lagi terbatas pada Jalur Gaza. Menurut laporan yang sama, kebijakan brutal juga telah meluas ke Tepi Barat, di mana lebih dari 40.000 warga Palestina dari kamp Jenin, Tulkarm, dan Nur Shams telah diusir secara paksa, dan rumah-rumah mereka dihancurkan.
Kejahatan yang Terus Berulang
Rosenfeld menutup artikelnya dengan refleksi moral yang pedih: “Jika dunia terus membiarkan ini terjadi, maka sejarah tidak hanya akan mencatat para pelaku kekejaman ini, tetapi juga mereka yang memilih untuk diam”.
