Loading

Ketik untuk mencari

Suriah

Ancaman Konyol Pendiri Jabhat Al-Nusra: Larang Iran ‘Timbulkan Kekacauan’ di Suriah

POROS PERLAWANAN – Dalam sebuah pernyataan kontroversial pada Rabu dini hari 25 Desember, Menteri Luar Negeri faksi pemberontak yang menguasai sebagian wilayah Suriah, Esad al-Syaibani mengeluarkan pernyataan konyol terhadap Iran. Ia menuding Tehran sebagai pihak yang harus menghormati kedaulatan, keamanan, dan aspirasi rakyat Suriah.

Dalam cuitannya di platform media sosial X (sebelumnya dikenal sebagai Twitter), al-Syaibani menulis: “Iran harus menghormati kehendak rakyat Suriah serta kedaulatan dan integritas negara ini”. Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara faksi-faksi pemberontak di Suriah.

Al-Syaibani bukan nama asing dalam konflik Suriah. Ia dikenal sebagai salah satu pendiri kelompok Takfiri bersenjata Jabhat al-Nusra, yang kemudian diakui sebagai organisasi teroris oleh banyak negara, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Bersama Abu Muhammad al-Jolani, al-Syaibani ikut bertanggung jawab atas berbagai kejahatan perang, termasuk pembunuhan terhadap warga sipil dan pasukan Pemerintah Suriah.

Kritiknya terhadap Iran diyakini berakar dari peran signifikan Tehran dalam mendukung Pemerintahan Bashar al-Assad selama perang melawan teroris Takfiri yang berlangsung lebih dari satu dekade. Iran telah menjadi sekutu utama Damaskus, menyediakan dukungan militer dan logistik untuk melawan kelompok-kelompok Takfiri, termasuk Jabhat al-Nusra.

Tuduhan dan Peringatan

Dalam cuitannya, al-Syaibani memperingatkan Iran agar tidak “menyebarkan kekacauan” di Suriah. “Kami memperingatkan mereka (Iran) atas konsekuensi yang dapat terjadi akibat tindakan mereka di Suriah.” Pernyataan ini mencerminkan ketegangan yang masih berlangsung di lapangan, terutama di wilayah yang dikuasai Takfiri.

Hingga kini, belum ada tanggapan resmi dariPemerintah Iran terkait pernyataan tersebut. Namun, para analis menilai kritik ini tidak lebih dari upaya al-Syaibani untuk membangun citra politiknya di tengah berkurangnya dukungan internasional terhadap faksi pemberontak Suriah.

Pernyataan al-Syaibani juga sangat ironis, mengingat perannya dalam konflik yang telah menyebabkan kehancuran besar di Suriah. Dalam konteks regional, sikap permusuhan terhadap Iran sering kali digunakan oleh kelompok-kelompok Takfiri untuk menarik simpati negara-negara yang menentang pengaruh Teheran di Timur Tengah.

Perang di Suriah telah menewaskan ratusan ribu orang dan memaksa jutaan lainnya mengungsi. Dukungan Iran kepada Pemerintah Assad dianggap sebagai faktor kunci dalam mempertahankan kekuasaan Pemerintahan Damaskus. Sementara itu, kelompok Takfiri, termasuk Jabhat al-Nusra, terus berusaha memperluas pengaruh mereka di wilayah utara dan barat Suriah meskipun menghadapi tekanan militer yang intens.

Pernyataan al-Syaibani ini tampaknya hanya akan menambah kompleksitas dinamika konflik di Suriah, yang telah menjadi arena perebutan pengaruh kekuatan global dan regional.

Tags: