Loading

Ketik untuk mencari

Yaman

Ansharullah: Peristiwa di Hadhramaut, Perang ‘Bagi-bagi Kekuasaan’ antara Arab Saudi dan UEA

POROS PERLAWANAN – Menanggapi meningkatnya ketegangan di wilayah selatan Yaman, khususnya di Provinsi Hadhramaut, pejabat Ansharullah Hizam al-Assad menyatakan bahwa apa yang terjadi adalah upaya terang-terangan untuk membagi pengaruh dan kekayaan Yaman antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, dengan dukungan langsung dari Amerika Serikat dan Inggris.

Menurut laporan Kantor Berita Tasnim pada Selasa 2 Desember, ketegangan antara kelompok yang diproyeksikan Arab Saudi dan kelompok yang didukung UEA semakin meningkat di Hadhramaut. Dalam pidatonya, Hizam al-Assad menegaskan bahwa elemen-elemen tersebut “hanyalah organisasi tentara bayaran” yang bekerja berdasarkan agenda tunggal, menguasai sumber daya Yaman dan mengendalikan wilayah strategisnya.

Ia menjelaskan bahwa UEA telah menancapkan kendali pada pesisir barat daya serta wilayah Aden dan Shabwa, sementara Arab Saudi berusaha memperluas pengaruhnya di Hadhramaut dan Al-Mahra, dua kawasan yang dianggap Riyadh sebagai koridor strategis untuk kepentingannya di Laut Arab dan perbatasan Oman.

Intervensi Asing yang Menjadi Pola Lama

Hizam al-Assad menyebut bahwa kehadiran AS dan Inggris di Al-Mahra, Hadhramaut, dan wilayah pendudukan lain memperlihatkan betapa kuatnya kendali asing dalam pengambilan keputusan lokal. Buruknya kondisi sosial dan keamanan di Yaman selatan, menurutnya, adalah hasil langsung dari struktur pendudukan yang kompleks, dengan UEA dan Saudi bertindak sebagai operator lapangan, sementara Washington dan London menyediakan payung politik serta intelijen.

Ia menilai bahwa Riyadh secara konsisten berusaha menyembunyikan keterlibatan langsungnya dengan menempatkan kelompok proksi di garis depan sambil menampilkan diri sebagai mediator. Ansharullah menyebut pendekatan ini sebagai “strategi lama yang dipoles ulang”: Saudi tampil seolah-olah netral, padahal menggerakkan dinamika pendudukan itu sendiri.

Pejabat tersebut juga menyinggung peta jalan perdamaian yang disepakati sebelumnya. Menurutnya, Saudi kini menggunakan berbagai alasan, termasuk perkembangan Laut Merah dan operasi Yaman demi mendukung Gaza untuk menunda implementasi komitmen tersebut, sambil memicu ketegangan baru di Hadhramaut.

Konflik Lokal sebagai Cermin Persaingan Regional

Bentrokan terbaru di Hadhramaut melibatkan milisi yang berafiliasi dengan Dewan Transisi Selatan (STC), kelompok separatis pro-UEA yang menggerakkan pasukan di kota pelabuhan Mukalla. Pergerakan militer ini muncul setelah Dewan Kepresidenan Yaman yang berbasis di Riyadh memecat gubernur Hadhramaut yang sebelumnya didukung Emirat, sebuah keputusan yang langsung memicu gesekan di lapangan.

Hadhramaut sendiri telah menjadi medan persaingan Riyadh vs Abu Dhabi sejak tahun lalu, ketika pasukan suku Hadhramaut di bawah komando Amr bin Habreesh berhasil memukul mundur milisi STC dari wilayah kaya minyak tersebut. Situasi itu memperlihatkan bahwa rivalitas Saudi–UEA tidak lagi terselubung, tetapi berubah menjadi pertarungan pengaruh terbuka melalui kelompok proksi masing-masing.

Di sisi Saudi, suku-suku Hadhramaut menjadi pilar utama karena telah dipersenjatai dan dibiayai oleh Riyadh dalam beberapa tahun terakhir. Di sisi lain, UEA memanfaatkan STC untuk mendorong agenda pemisahan Yaman Selatan dan mengamankan jalur pelabuhan strategis.

Upaya Memecah Yaman

Menurut Hizam al-Assad, seluruh konflik ini merupakan bagian dari proyek jangka panjang untuk mendisintegrasi Yaman melalui kombinasi tekanan politik, operasi militer, dan manuver ekonomi. Ia menyatakan bahwa konferensi dialog nasional, runtuhnya ekonomi dan keamanan, hingga eskalasi konflik lokal merupakan rangkaian upaya untuk menciptakan realitas baru yang akan mempermudah Saudi dan UEA memetakan ulang wilayah Yaman sesuai kepentingan masing-masing.

Ia menambahkan bahwa agresi bertahun-tahun telah membuktikan satu hal: slogan-slogan “stabilisasi” dan “pemberantasan ekstremisme” hanyalah kemasan. Di baliknya, yang terjadi adalah perebutan sumber daya dan berusaha menjadikan rakyat di wilayah selatan sebagai tenaga proksi murah untuk melayani agenda kekuatan asing.

Ketahanan Internal sebagai Faktor Penentu

Hizam al-Assad menegaskan bahwa kendati tekanan dan intervensi asing semakin terbuka, kewaspadaan rakyat Yaman serta keteguhan Front Perlawanan Nasional akan mampu menggagalkan upaya pembagian wilayah dan mengembalikan Hadhramaut, serta tanah-tanah lain ke otoritas negara.

Pernyataannya muncul ketika laporan lapangan menunjukkan bahwa Hadhramaut berada di ambang konflik baru, dengan kemungkinan bentrokan antara pasukan suku dan milisi Aden dalam beberapa hari ke depan, sebuah perkembangan yang memperlihatkan betapa rapuhnya konfigurasi kekuasaan di wilayah selatan Yaman.

Tags: