Kedubes Iran Sindir Klaim AS Soal Jasanya ‘Perangi Obat Bius’
POROS PERLAWANAN – Bagian Pers Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Republik Azerbaijan, menanggapi pernyataan yang dikeluarkan oleh Kedutaan Besar AS di Baku. Dalam pernyataan tersebut, Kedubes AS mengungkit peran peralatan khusus yang disumbangkannya dalam mendeteksi pengiriman obat bius di jalur transit.
Dilansir Fars, Kedubes Iran dalam statemennya menyatakan,”Perang melawan perdagangan obat bius adalah tanggung jawab kolektif, berkelanjutan, dan kompleks. Segala bentuk kampanye propaganda yang menonjolkan peralatan tertentu tidak dapat menyembunyikan realitas di lapangan.”
“Dalam konteks ini, penting untuk mencatat peran pihak AS dalam peningkatan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam produksi dan perdagangan obat bius di Afghanistan. Menurut laporan resmi dari berbagai organisasi internasional, selama lebih dari dua dekade pendudukan Afghanistan oleh AS dan sekutunya, tingkat penanaman obat bius dan volume perdagangannya meningkat berlipat ganda. Dampaknya terus memengaruhi banyak negara di kawasan tersebut, termasuk Republik Islam Iran dan Republik Azerbaijan.”
“Republik Islam Iran telah berada di garis depan dalam perjuangan melawan perdagangan narkoba selama beberapa dekade terakhir. Iran telah menanggung kerugian manusia dan finansial yang paling berat dalam memerangi fenomena terkutuk ini. Peran Republik Islam Iran dalam mencegah penyebaran narkoba ke Eropa dan wilayah lain, meskipun dihadapkan pada keterbatasan peralatan dan teknis akibat sanksi ilegal dan tidak adil, selalu diakui dan dipuji oleh berbagai lembaga internasional.”
Dalam statemennya, Kedutaan Besar Republik Islam Iran menekankan bahwa kerja sama yang erat dengan negara-negara tetangga, termasuk Republik Azerbaijan, dalam memerangi kejahatan transnasional ini, akan terus dilanjutkan dengan kekuatan dan tekad yang kuat. Dalam hal ini, kunjungan Kepala Kepolisian Anti-Obat Bius Republik Islam Iran ke Republik Azerbaijan pada 25 November 2025, serta negosiasi dan kesepakatan yang dicapai antara kedua negara untuk memperkuat kerja sama, dipandang sebagai sebuah titik balik.
