Loading

Ketik untuk mencari

Afrika Asia Barat

AS Didukung UEA Paksa Khartoum Normalisasi Hubungan dengan Israel, Sudan Berpotensi Rusuh

AS Didukung UEA Paksa Khartoum Normalisasi Hubungan dengan Israel, Sudan Berpotensi Rusuh

POROS PERLAWANAN – Dilansir Fars, mantan Ketua Himpunan Fikih Islam Sudan, Abdurrahim Ali menyebut UEA sebagai ujung tombak “marketing untuk menciptakan Timur Tengah Baru”.

Ali menyatakan, mayoritas partai, lembaga, dan tokoh-tokoh Sudan menentang normalisasi Khartoum dengan Tel Aviv.

“Dengan mengecualikan pertemuan Ketua Dewan Transisi Sudan Abdul Fattah Burhan dengan PM Israel Benyamin Netanyahu, tidak ada langkah nyata yang pernah diambil untuk mewujudkan normalisasi,” kata Ali.

Ia menambahkan, jika langkah-langkah praktis untuk mewujudkan normalisasi dengan Rezim Zionis dimulai, itu akan ditentang sepenuhnya oleh rakyat Sudan. Bahkan, kata Ali, bisa saja penentangan itu berujung pada kerusuhan dan kekerasan. Sebab, jumlah rata-rata penentang normalisasi di Sudan sangat tinggi, yaitu lebih dari 80 persen.

Dia memperingatkan, pemaksaan normalisasi atas rakyat Sudan sangat berpotensi memicu rentetan kekerasan.

Ali berpendapat, normalisasi hubungan dengan Rezim Zionis berarti bahwa tanah dan hak rakyat Palestina akan dirampas lebih banyak lagi. Ini lantaran peta Israel belum didefinisikan, sehingga kapan pun ada peluang, Rezim Zionis akan melanjutkan ekspansinya, apalagi Tel Aviv memiliki gagasan soal Israel Raya yang terbentang dari Nil hingga Eufrat.

Dikutip dari al-Khaleej al-Jadid, Ali menyebut upaya “marketing” yang dilakukan sejumlah politisi terkait normalisasi dengan Tel Aviv, dengan klaim bahwa itu akan mengatasi problem besar Sudan.

“Masalah dihapusnya Sudan dari daftar terorisme tak ada kaitannya dengan Israel. Namun sejumlah pejabat Sudan menyerah di bawah tekanan dan pemerasan, sehingga mencari-cari dalih untuk menormalisasi hubungan dengan Tel Aviv,” kata Ali.

Ia menambahkan, UEA tidak berperan utama dalam marketing normalisasi. Namun AS-lah yang menentukan syarat-syaratnya, sedangkan UEA hanya mendiktekan syarat-syarat itu kepada Sudan dan memainkan peran sebagai mediator.

Ali menegaskan, UEA berperan untuk menawarkan sejumlah uang demi mendorong Sudan menormalisasi, terutama di tengah kondisi ekonomi sulit yang dihadapi Khartoum. Padahal, kata Ali, bantuan uang tak seberapa itu tak bisa menyelesaikan problem bahan bakar, energi, dan gandum Sudan.

Tags: