Atwan: Camp David Jilid 2 Bakal Terjadi di Suriah
POROS PERLAWANAN – Sebelum berkuasa, Abu Muhammad Jolani mengeklaim akan “menghabisi” Israel setelah menggulingkan Pemerintahan Bashar Assad dan membebaskan Palestina. Namun saat ini, dia tengah memimpikan persahabatan dan hubungan strategis dengan kubu Zionis.
Dilansir Fars, pemimpin pemberontak Suriah itu dalam jumpa pers dengan berbagai stasiun televisi Arab, terutama Saudi dan UEA, mengumumkan kemajuan dalam kesepakatan keamanan potensial antara Damaskus dan Tel Aviv.
Analis terkemuka Arab, Abdel Bari Atwan, dalam tulisannya di Rai al-Youm membahas aspek-aspek kesepakatan tersebut dan memperingatkan konsekuensinya atas Kawasan.
Menurut Atwan, hal terpenting yang menarik perhatian dalam jumpa pers tersebut adalah statemennya soal “kemajuan dalam kesepakatan keamanan dengan Israel.” Hal ini terjadi dalam pertemuan Menlu Suriah, As’ad al-Shaybani dengan Menteri Urusan Strategis Israel, Ron Dermer di Paris pekan lalu.
Masalah penting lainnya adalah, Kolani tidak menentang penandatanganan kesepakatan damai dengan Zionis. Bahkan dia mengeklaim, dirinya siap menekennya jika kesepakatan itu akan menguntungkan Suriah dan Kawasan. Pertanyaannya adalah: apa keuntungan dari kesepakatan tersebut dan apa hubungannya dengan masalah Palestina?
Atwan meyakini bahwa saat ini, Suriah di ambang sebuah perjanjian Camp David jilid 2. Hal ini terjadi dengan kesepakatan keamanan yang jauh lebih berbahaya daripada kesepakatan politik dan pertukaran kedubes.
Atwan menyatakan, hal terpenting bagi Rezim Zionis adalah keamanan; keamanan yang telah dilenyapkan oleh Perlawanan di Palestina dan Lebanon, serta sudah tidak ada artinya lagi dengan serangan rudal dan drone yang dilancarkan Ansharullah.
Perjanjian Camp David adalah kesepakatan yang diteken Presiden Mesir, Anwar Sadat dan PM Israel, Menachem Begin pada tanggal 17 September 1978.
Perjanjian ini difinalisasi setelah 12 hari perundingan diam-diam yang dimediasi AS di Camp David, yaitu salah satu tempat peristirahatan para Presiden AS. Kesepakatan itu ditandatangani di Gedung Putih di depan Presiden AS saat itu, Jimmy Carter. Kesepakatan itu merupakan perjanjian damai pertama antara kedua belah pihak perang Arab vs Israel.
Atwan menegaskan, normalisasi hubungan dengan Rezim Zionis adalah pengkhianatan besar, entah itu politis atau keamanan. Jutaan orang dari berbagai bangsa Muslim dan merdeka dunia menentang masalah tersebut.
“Tindakan Suriah untuk menormalisasi hubungan dengan Israel dilakukan di saat warga Gaza menjadi target genosida oleh Israel. Suriah baru telah menjadi polisi untuk melindungi Israel. Suriah ini direncanakan untuk menghadapi faksi-faksi Perlawanan Suriah atau Arab serta tidak membiarkan pembebasan wilayah Suriah dan Palestina yang diduduki,” tandas Atwan.
