Media Israel Akui Serangan ke Yaman Gagal Redam Rudal Ansharullah
POROS PERLAWANAN — Dilansir Al Mayadeen, media Israel mengakui bahwa serangan udara terhadap Yaman tidak mampu menghentikan gelombang serangan rudal yang diluncurkan Ansharullah ke Wilayah Pendudukan Israel. Saluran TV Israel, KAN, menyebut anggapan bahwa agresi militer akan memberikan efek jera terhadap Yaman hanyalah sebuah delusi.
Dalam laporannya pada Minggu 24 Agustus, KAN menyatakan bahwa tidak ada target signifikan yang berhasil dihantam dalam serangan terbaru di Yaman. Bahkan, upaya sebelumnya untuk menyingkirkan pemimpin militer Yaman pun gagal total. Israel dinilai terlalu optimistis jika mengira agresi militer akan memaksa Ansharullah menghentikan serangan rudalnya.
Media tersebut memperingatkan bahwa Angkatan Bersenjata Yaman kemungkinan akan membalas agresi terbaru ini dengan serangan yang lebih intens. Sementara itu, Israel diperkirakan akan terus melanjutkan operasi militernya, meski hasilnya diragukan.
Front Perang Meluas di Luar Gaza
KAN juga menyoroti bahwa siapa pun yang beranggapan perang hanya terbatas di Jalur Gaza keliru besar. Rudal balistik MIRV yang ditembakkan dari Yaman pada Jumat 22 Agustus lalu, yang menargetkan Bandara Ben Gurion serta wilayah Yafa dan Ashkelon menjadi bukti bahwa konflik semakin meluas dan belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Associated Press mengutip seorang pejabat angkatan udara Israel yang mengakui bahwa serangan rudal dari Yaman merupakan ancaman serius dan menambah dimensi baru bagi keamanan Kawasan.
Saluran 13 Israel mencatat bahwa serangan ke-15 dari Yaman ini menunjukkan tekad Ansharullah untuk terus melancarkan operasi militer. Sementara itu, Channel 12 menegaskan bahwa Yaman dengan tegas mengaitkan perang di Gaza dengan aksi militernya terhadap Israel, menantang Tel Aviv untuk merumuskan strategi baru bersama sekutu-sekutunya jika ingin menghentikan serangan tersebut.
Media Israel sepakat bahwa Ansharullah adalah kekuatan tangguh dengan tekad yang sulit dipatahkan. Kemampuan Israel untuk memaksa mereka menghentikan serangan dinilai sangat terbatas, menandakan konflik berpotensi semakin berkepanjangan.
