Loading

Ketik untuk mencari

Asia Barat

Bahrain Tangkap 20 Tokoh Agama dan Budaya, Lima Ulama Syiah Dibawa ke Lokasi Tak Diketahui

POROS PERLAWANAN — Otoritas Bahrain menangkap 20 tokoh agama dan budaya, termasuk lima ulama Syiah, dalam gelombang penindakan terbaru yang disebut meningkat setelah konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Penangkapan dilakukan di tengah tuduhan bahwa para tokoh tersebut memiliki hubungan dengan Teheran.

Menurut laporan Press TV, Kamis (4/6/2026), aparat keamanan Bahrain menggerebek sejumlah rumah pada Rabu dan menahan lima ulama Syiah, yakni Sayyid Yasin Mousavi, Syekh Ali al-Mustarishd, Syekh Ja’far Ashour, Syekh Nazir Malik, dan Syekh Mahmoud Taheri.

Laporan tersebut menyebut para ulama itu dibawa ke lokasi yang tidak diketahui tanpa penjelasan resmi mengenai alasan penahanan mereka.

Selain lima ulama tersebut, 15 tokoh lain yang terdiri atas pelantun syair keagamaan, qari Al-Qur’an, serta tokoh budaya dan keagamaan Bahrain juga dilaporkan ditangkap di berbagai wilayah kerajaan itu.

Menurut sumber oposisi yang dikutip Press TV, jumlah ulama Bahrain yang ditahan sejak pecahnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah mencapai 58 orang. Sebanyak 56 orang ditahan di Bahrain, sementara dua lainnya ditangkap di Uni Emirat Arab.

Larangan Ziarah ke Irak dan Iran

Dalam perkembangan lain, pemerintah Bahrain dilaporkan mengeluarkan kebijakan baru yang melarang warga Syiah melakukan perjalanan ke Irak dan Iran untuk menjalankan ritual keagamaan.

Kebijakan tersebut muncul menjelang bulan Muharam, periode peringatan syahadah Imam Husain as. dan para sahabatnya dalam Peristiwa Karbala pada tahun 680 M.

Laporan yang sama juga menyebut aparat intelijen Bahrain memindahkan seorang pembaca syair keagamaan bernama Haji Mehdi Sehwan dari pusat penahanan Hawdh al-Jaf ke lokasi yang tidak diumumkan tanpa pemberitahuan kepada keluarga maupun kuasa hukumnya.

Sumber-sumber oposisi menilai penangkapan para ulama tersebut sebagai bentuk eskalasi baru dalam kebijakan yang mereka sebut menargetkan komunitas Muslim Syiah di Bahrain.

Kritik terhadap Kebijakan Pemerintah

Menurut laporan tersebut, gelombang penangkapan meningkat setelah serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran serta munculnya penolakan sebagian warga Bahrain terhadap keberadaan pangkalan militer Amerika Serikat di negara tersebut.

Warga Bahrain juga dilaporkan beberapa kali menggelar aksi protes terhadap normalisasi hubungan antara Manama dan Tel Aviv.

Press TV melaporkan aparat Bahrain sebelumnya telah menahan ratusan warga dengan tuduhan terkait aktivitas spionase untuk Iran atau keterlibatan dengan kelompok perlawanan Hizbullah di Lebanon. Tuduhan tersebut dibantah oleh berbagai kelompok oposisi dan organisasi hak asasi manusia.

Bahrain menjadi tuan rumah Armada Kelima Angkatan Laut Amerika Serikat dan merupakan salah satu negara Arab yang menjalin hubungan diplomatik dengan Israel melalui Kesepakatan Abraham.

Kelompok-kelompok perlawanan dan aktivis politik di Bahrain mengecam penangkapan para ulama Syiah serta mendesak pembebasan mereka. Mereka juga menyerukan penghentian tindakan yang dinilai diskriminatif terhadap komunitas Syiah di negara itu.

Pada 15 Mei lalu, Majelis Global Ahlulbayt. mengutuk keputusan pemerintah Bahrain yang mencabut kewarganegaraan 69 warga, menahan sejumlah ulama terkemuka, serta membatalkan keanggotaan tiga anggota parlemen.

Tags: