IRGC Bantah Serang Bandara Kuwait, Sebut Terminal Rusak Akibat Rudal Patriot AS
POROS PERLAWANAN — Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) membantah tuduhan bahwa rudal Iran menghantam Bandara Internasional Kuwait. IRGC menyatakan kerusakan pada terminal penumpang bandara tersebut disebabkan oleh kegagalan sistem pertahanan udara Patriot buatan Amerika Serikat.
Menurut laporan Press TV, Kamis (4/6/2026), pernyataan itu disampaikan Juru Bicara IRGC Brigadir Jenderal Hossein Mohebbi setelah pemerintah Kuwait menuding Iran bertanggung jawab atas serangan yang menyebabkan satu orang tewas, puluhan lainnya terluka, dan sempat menghentikan operasional bandara. Klaim serupa juga dilaporkan oleh sejumlah media internasional yang mengutip pernyataan resmi IRGC.
Mohebbi mengatakan hasil investigasi menunjukkan Pasukan Dirgantara IRGC tidak menargetkan terminal penumpang Bandara Internasional Kuwait.
“Kerusakan pada terminal penumpang Bandara Kuwait disebabkan oleh kesalahan sistem Patriot Amerika yang jatuh ke area terminal setelah gagal mencegat rudal Iran,” ujarnya.
Pemerintah Kuwait sebelumnya menyatakan serangan rudal dan drone yang dikaitkan dengan Iran menyebabkan kerusakan signifikan pada bandara serta menewaskan sedikitnya satu orang. Sejumlah media internasional melaporkan terminal bandara mengalami kerusakan berat dan puluhan orang terluka.
Serangan Balasan Iran
Pada Rabu dini hari, IRGC mengumumkan peluncuran rudal dan drone ke sejumlah target militer Amerika Serikat di kawasan Teluk Persia, termasuk markas Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain dan pangkalan militer AS di Kuwait.
Menurut IRGC, serangan tersebut merupakan respons atas serangan Amerika Serikat terhadap sebuah kapal Iran di Teluk Oman serta serangan terhadap menara komunikasi di selatan Pulau Qeshm.
Ketegangan terbaru menandai berlanjutnya aksi saling serang antara Iran dan Amerika Serikat meskipun kedua negara masih terlibat dalam upaya diplomatik untuk mempertahankan gencatan senjata yang rapuh.
Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan Teheran akan menggunakan seluruh kemampuannya untuk menghadapi tindakan agresi yang ditujukan kepada negara tersebut.
Dalam pernyataannya, Iran juga memperingatkan bahwa penggunaan wilayah, pangkalan, atau fasilitas suatu negara untuk mendukung operasi militer terhadap Iran merupakan pelanggaran terhadap prinsip-prinsip hukum internasional dan hubungan bertetangga yang baik.
Kuwait Layangkan Protes Diplomatik
Menyusul insiden tersebut, Kementerian Luar Negeri Kuwait memanggil Kuasa Usaha Iran di Kuwait, Hamed Ya’qoubi Far, untuk menyampaikan nota protes resmi.
Pemerintah Kuwait juga menyatakan dua anggota misi diplomatik Iran sebagai persona non grata dan memerintahkan keduanya meninggalkan negara itu dalam waktu 24 jam.
Sementara itu, laporan dari berbagai media internasional menyebut otoritas Kuwait tetap berpegang pada penilaian bahwa fasilitas sipil negara tersebut menjadi sasaran serangan Iran. Di sisi lain, IRGC menegaskan kerusakan terminal bandara terjadi akibat kegagalan sistem pertahanan udara Patriot dalam proses pencegatan rudal.
