Loading

Ketik untuk mencari

Opini

Banyak Tanya Belum Terjawab di Balik Permainan AS ‘Hengkang dari Afghanistan’

Banyak Tanya Belum Terjawab di Balik Permainan AS ‘Hengkang dari Afghanistan’

POROS PERLAWANAN – Dilansir Noor News, dalam beberapa pekan terakhir Pasukan AS dan NATO telah memulai penarikan pasukan secara lahiriah dari Afghanistan. Artinya, mereka mengurangi kuantitas serdadu, namun meningkatkan kualitas serdadu yang dipertahankan.

Penarikan pasukan secara lahiriah ini terjadi di saat sejumlah pertanyaan masih menyibukkan benak publik dunia; pertanyaan-pertanyaan yang masih belum dijawab pelaku invasi ke Afghanistan.

Pertama, setelah serangan 11 September 2001 AS dan NATO memulai invasi ke Afghanistan dengan dalih serangan ke gedung WTC di New York. George W. Bush di Kongres AS mengklaim, ”Kami menyerang Afghanistan untuk memerangi terorisme dan mewujudkan keamanan di dunia. Siapa pun yang tidak bersama kami, berarti melawan kami!”

Namun kini setelah hampir 20 tahun, AS sedang mengurangi pasukannya di Afghanistan di saat pertanyaan fundamental ini masih mengemuka: apakah dunia sudah aman dan terorisme sudah berakhir?

Bukti-bukti menunjukkan bahwa invasi ini tak hanya gagal melenyapkan terorisme, tapi malah justru menciptakan aspek-aspek baru terorisme. Kelompok-kelompok seperti ISIS, Jabhat al-Nusra, Ahrar al-Sham, Boko Haram, dan selainnya hanyalah sebagian dari teroris-teroris tersebut.

Juga muncul pertanyaan bahwa bagaimana bisa AS yang mengklaim perang atas terorisme, menerapkan terorisme pemerintahan dari satu sisi, dan dari sisi lain, mendukung rezim-rezim teroris seperti Israel dan Saudi? Padahal ribuan manusia tanpa dosa di Palestina dan Yaman telah menjadi korban terorisme rezim Riyadh dan Tel Aviv.

Saat Bush menjabarkan aspek-aspek perang Afghanistan, ia menyebutnya sebagai “Perang Salib”. Meski ia lalu mencabut klaim itu, namun masih tersisa pertanyaan apakah AS benar-benar telah menyingkirkan pemikiran ini, ataukah pembunuhan dan penelantaran jutaan Muslim di Afghanistan, Irak, dan negara-negara Kawasan lain akibat agresi AS adalah bagian dari Perang Salib ini?

Kedua, setelah Afghanistan diduduki selama 20 tahun, rakyat negara ini masih bertanya-tanya soal hasil dari keberadaan Tentara AS bagi Afghanistan. Para agresor jelas memiliki rapor merah dalam hal janji-janji kemajuan dan pembangunan Afghanistan. Program Pembangunan PBB (UNDP) dalam laporannya tentang pengembangan manusia di Afghanistan menyatakan, negara ini di tahun 2019 berada di peringkat terendah di dunia dengan hanya memiliki indeks pengembangan manusia setara 0,511.

Setelah 20 tahun, para agresor secara lahiriah meninggalkan Afghanistan, namun kondisi keamanannya bukan hanya tidak membaik, tapi justru kian rawan dalam beberapa pekan terakhir akibat perang saudara, yang bisa saja menelan jutaan korban.

Pertanyaannya adalah apa yang dilakukan para agresor di Afghanistan selama dua dekade ini, sehingga negara itu masih menempati peringkat pertama produksi obat bius dan tenggelam dalam perang saudara?

Ketiga, warga AS memiliki pertanyaan dari para politisi Paman Sam: apa hasil dari invasi ini? Statistik menunjukkan, 2.442 serdadu AS tewas dan lebih dari 20.600 lainnya terluka atau cacat. Biaya invasi ke Afghanistan sendiri menelan dana hingga 2, 26 trilyun dolar.

Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang tidak dijawab para politisi AS. Mungkin bisa dikatakan bahwa demi berkelit dari jawaban, AS menyulut perang saudara di Afghanistan saat hengkang demi mengalihkan perhatian dan terhindar dari keharusan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan publik dunia.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *