Bukan Tangisan, Tapi Semangat Perlawanan: Reaksi Ayah yang Anak Belianya Jadi Korban Perang Iran-Israel
POROS PERLAWANAN – Dilansir Tehran Times, sebuah pernyataan emosional dari seorang ayah di Iran mengguncang publik minggu ini. Di tengah duka mendalam karena kehilangan putranya dalam serangan udara Israel, pria tersebut menyampaikan tekad luar biasa: menyerahkan kekayaan dan tabungan anaknya untuk mendanai perang melawan Israel.
“Saya rela menyerahkan segalanya. Jika perlu, gunakan seluruh tabungan yang saya kumpulkan untuk masa depan putra saya, agar satu rudal pun dapat menghantam jantung Tel Aviv,” ujarnya di siaran nasional. Putranya, Ehsan Qassemi, baru berusia 16 tahun saat tewas akibat serangan Israel di kota suci Qom.
Pernyataan itu datang saat konflik antara Iran dan Israel memuncak ke titik paling mematikan dalam beberapa dekade. Perang besar yang diprediksi akan mengguncang fondasi politik Iran justru menunjukkan sebaliknya: Republik Islam tetap solid, dan masyarakatnya bersatu melawan serangan eksternal.
Para analis internasional sebelumnya memperkirakan bahwa perang akan melemahkan Iran secara politik dan sosial. Namun kenyataan berkata lain. Saat serangan Israel menghantam, termasuk menargetkan ilmuwan nuklir dan pejabat tinggi, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei segera mengambil alih kendali penuh, menunjuk komandan baru dan melancarkan balasan militer hanya dalam hitungan jam.
Sebanyak 22 gelombang serangan rudal dan drone Iran menghujani wilayah Israel dalam beberapa hari pertama, menciptakan kerusakan yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak berdirinya negara tersebut pada 1948. Sementara itu, tokoh-tokoh penting Iran tetap menjalankan pemerintahan dan tampil di hadapan publik, meskipun menjadi sasaran percobaan pembunuhan.
Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu mencoba memprovokasi rakyat Iran agar melawan pemerintah mereka, namun pesannya justru memicu kemarahan lebih besar. Banyak warga menolak untuk mendengarkan pemimpin yang dianggap bertanggung jawab atas puluhan ribu kematian di Gaza dan sekarang di Iran.
Peristiwa ini menunjukkan satu hal yang tak terbantahkan: rakyat Iran tidak gentar. Dari ruang perang hingga suara seorang ayah berduka, semangat perlawanan terhadap Israel kini mengakar lebih kuat dari sebelumnya.
