Diplomasi Fantasi Trump dan Rencana Nyata untuk Mencaplok Bab el-Mandeb
POROS PERLAWANAN — “Somalia harus bebas dari terorisme. Rakyat Somalia tidak boleh membiarkan Houthi menyusup dan menyebar di antara mereka.”
— Donald J. Trump, Thesun, 13 April 2025, melalui platform Truth Social.
Pernyataan ini kemungkinan akan dikenang sebagai puncak diplomasi delusional abad ke-21—ketika seorang miliarder yang lebih dikenal dengan kecintaannya pada golf menuduh Ansharullah Yaman menyusup ke Somalia, padahal kenyataan geopolitik justru menunjukkan hal yang sebaliknya.
Fantasi: Ansharullah di Somalia
Mari kita telaah logika ini: Ansharullah, sebuah gerakan nasionalis-revolusioner yang berbasis di pegunungan utara Yaman, tidak memiliki aktivitas militer, intelijen, maupun ideologis di Somalia. Tidak ada kamp pelatihan, markas rahasia, atau pengiriman senjata, yang ada hanya sejumlah kecil pengusaha Yaman yang berusaha bertahan hidup dari blokade Saudi-Amerika, menggunakan pelabuhan-pelabuhan kecil Somalia untuk menyuplai kebutuhan dasar warga sipil di Yaman; sebuah ekonomi rakyat, bukan strategi militer.
Namun Trump dan para penulis naskahnya di Washington tampaknya hidup dalam versi terbaru film “Red Dawn” versi Arab di mana “para Houthi” bisa tiba-tiba muncul dari semak-semak Mogadishu sambil membawa drone dan kitab Zaidiyah.
Narasi Hantu untuk Menjual Invasi Nyata
Tuduhan tentang “kehadiran Ansharullah” bukan ditujukan untuk Somalia. Tuduhan itu hanyalah dalih untuk pendudukan.
Trump, yang lebih dikenal piawai dalam menjual steak daripada merancang strategi geopolitik, tengah mempersiapkan skenario “intervensi demi keamanan regional” dengan narasi anti-terorisme. Tujuannya?
Menempatkan pasukan AS secara permanen di Somalia, dengan dalih memerangi milisi buatan sendiri.
Mengendalikan Bab el-Mandeb, selat strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Laut Arab; salah satu jalur pelayaran minyak tersibuk di dunia.
Menggunakan milisi lokal Somalia sebagai pasukan bayaran, yang direkrut dari konflik antarsuku dan didukung dengan Dolar minyak UEA dan Israel, untuk menjadi tentara cadangan dalam invasi darat ke Yaman.
Dana, Dusta, dan Drone: Ekspor Model Blackwater ke Tanduk Afrika
Trump tidak sendirian dalam skema ini. Di balik rencana ini, kita melihat reinkarnasi model Blackwater: tentara bayaran murah yang dikirim ke garis depan agar pasukan elite AS dan Israel bisa duduk nyaman di balik joystick drone dan ruang komando.
Rencana ini akan melibatkan:
1. Rekrutmen besar-besaran milisi lokal di Somalia oleh konsultan keamanan pro-AS dan UEA.
2. Pelatihan taktis dan suplai senjata ringan, difasilitasi dari pangkalan AS dan Israel di wilayah Djibouti dan pesisir Somalia.
3. Operasi infiltrasi ke wilayah Yaman, terutama Hadramaut dan Al-Jawf, untuk menyerang titik logistik Ansharullah dari selatan.
Namun, ada satu masalah: Yaman siap, dan mereka tahu ini akan datang.
“Target Latihan” dan Tesis Ketahanan
Yaman bukan negara yang duduk pasif menunggu dijajah. Menurut sumber internal Yaman, divisi rudal dan drone Ansharullah justru membutuhkan “target tetap” untuk meningkatkan akurasi dan respons tempur. Keberadaan pangkalan asing di Somalia memberikan skenario yang sempurna: objek statis, logistik militer besar, dan garis komunikasi yang bisa dideteksi satelit.
Dengan kata lain, semakin banyak pangkalan yang dibangun di Somalia, semakin banyak pula target valid yang disodorkan kepada sistem drone dan rudal Yaman untuk pengujian langsung. Ini bukan ancaman, ini adalah fakta kalkulatif dari medan perang asimetris.
Diplomasi Halusinasi vs Realitas Perlawanan
Apa yang terjadi hari ini bukan sekadar pergeseran geopolitik. Ini adalah transformasi narasi fiksi menjadi aksi militer nyata. Dalam dunia yang normal, menyebarkan hoaks untuk membenarkan invasi adalah sebuah kejahatan. Dalam dunia yang dipimpin oleh Trump dan Netanyahu, itu adalah strategi nasional. [PP/MT]
