Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

Fakta Teror Psikologis Hantui Jantung Tel Aviv: Gampang Panik dan Ketakutan Meski Tak Ada Serangan

POROS PERLAWANAN – Bahkan tanpa roket dan tanpa perlawanan bersenjata, jantung kota Tel Aviv mendadak berubah menjadi ladang kepanikan. Suasana mencekam mengguncang pusat kota yang disebut-sebut paling aman di “Israel”, saat para Zionis memperingati apa yang mereka sebut sebagai Hari Holocaust; sebuah ritual tahunan yang sarat propaganda politik dan pengalihan sejarah kolonialisme berdarah mereka di Palestina.

Menurut laporan media berbahasa Ibrani Ma’ariv pada Rabu 30 April, kekacauan meledak di Lapangan Habima, sebuah ikon di pusat kota Tel Aviv, ketika seorang individu diduga mencoba menerobos perimeter keamanan upacara. Tanpa ada satu peluru pun ditembakkan, kerumunan peserta langsung berhamburan dalam kepanikan.

“Saya dan teman saya sedang berdiri di sudut alun-alun ketika segerombolan wanita mulai berteriak dan lari terbirit-birit,” kata seorang saksi mata. “Kami menyaksikan sendiri momen-momen teror itu.”

Polisi mengonfirmasi bahwa insiden tersebut hanyalah perkelahian antara seorang pria asal Nazareth dengan aparat keamanan, bukan serangan. Namun efeknya berbicara banyak: kekacauan meluas, desas-desus penyerangan menyebar, dan ketakutan kolektif menjalar cepat, seperti virus panik.

Salah satu peserta upacara berkata: “Saya yakin ada serangan. Semua orang saling dorong, berlari ke arah berbeda. Tak ada tembakan, tapi kami mendengar suara dalam kepala kami. Ketakutan itu nyata. Teror itu hidup dalam diri kami.”

Inilah wajah ketakutan Zionis hari ini: paranoid, panik, dan dihantui oleh kemungkinan serangan yang bahkan belum terjadi. Sebuah masyarakat yang telah menggusur, membunuh, dan memblokade selama puluhan tahun kini diburu oleh bayang-bayang dosa sejarahnya sendiri. Bahkan bayang-bayang seorang pria yang berdebat dengan polisi cukup untuk memecah kerumunan.

Upacara peringatan yang dirancang untuk membangun narasi simpati internasional justru menunjukkan rapuhnya mental kolektif masyarakat Zionis; sebuah masyarakat yang tahu betul bahwa eksistensinya dibangun di atas tanah curian dan kebohongan sejarah. Mungkin mereka sebenarnya sadar, bahwa di balik gemerlap kota, tak ada keamanan sejati di atas penindasan.

Ketika tiupan angin pun bisa membangkitkan kepanikan massal, maka Zionisme telah gagal menjaga rakyatnya dari ketakutan yang mereka ciptakan sendiri.

Tags: