Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

‘Gaza Trump’: Gagasan Baru atau Pengulangan Kegagalan AS di Palestina?

‘Gaza Trump’: Gagasan Baru atau Pengulangan Kegagalan AS di Palestina?

POROS PERLAWANAN – Situasi di Gaza setelah gencatan senjata telah mencapai titik yang sangat sensitif. Rencana Trump untuk mengusir warga Palestina menimbulkan pertanyaan: apakah ini gagasan baru, atau hanya pengulangan kebijakan Amerika Serikat yang gagal dalam konflik Palestina?

Presiden Amerika Serikat itu pada 26 Februari mengunggah sebuah video di akun Instagram-nya mengenai “Gaza Trump”, menunjukkan bahwa ia tetap mempertimbangkan rencananya untuk memindahkan penduduk Gaza, meskipun empat hari sebelumnya, dalam wawancara radio dengan Fox News, ia menyatakan tidak akan memaksakan rencana perebutan Gaza.

Pada 5 Februari, Trump menyerukan evakuasi total Jalur Gaza dan pemindahan penduduknya ke negara-negara Arab tetangga serta wilayah lain, dengan tujuan agar Amerika Serikat dapat menguasai wilayah tersebut. Ide ini mendapat penolakan dari berbagai bangsa dan pemerintah. Bahkan, jurnalis Amerika, Thomas Friedman menulis bahwa rencana Trump untuk Gaza bukanlah pemikiran baru, melainkan sekadar pengulangan kebijakan lama dengan kemasan berbeda.

Dalam konferensi pers bersama Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa hampir dua juta warga Palestina di Gaza harus dipindahkan secara permanen ke luar wilayah tersebut. Hal ini dimaksudkan agar Amerika Serikat dapat mengambil alih kepemilikan Gaza dan mengubahnya menjadi kawasan wisata pantai.

Gagalnya Rencana AS dalam Konflik Palestina

Selama delapan dekade terakhir, berbagai rencana dan intervensi Amerika Serikat untuk menyelesaikan konflik Palestina selalu menemui kegagalan. Hal ini disebabkan oleh ketidakpatuhan Israel terhadap perjanjian internasional serta perjuangan rakyat Palestina dalam mempertahankan hak mereka. Beberapa rencana yang gagal mencakup:

1. Pembagian Palestina 1947
2. Perundingan Camp David 1978
3. Kesepakatan Oslo 1993
4. Inisiatif Perdamaian Arab 2002
5. Peta Jalan Perdamaian 2003

Kesepakatan Abad Ini (Deal of the Century) Trump 2019

Penolakan terhadap Rencana Trump

Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich mendukung ide Trump dan menyebutnya sebagai respons nyata terhadap serangan 7 Oktober. Ia bahkan menegaskan bahwa “Israel kini akan mengubur gagasan berbahaya tentang negara Palestina”. Namun, gagasan ini tidak mendapat dukungan luas di antara para pemimpin dunia.

Banyak pemimpin dunia berpendapat bahwa warga Palestina berhak untuk tetap hidup dan berkembang di tanah mereka sendiri. Senator Ruben Gallego bahkan menyebut pernyataan Trump sebagai “dangkal, bodoh, dan ilegal”.

Saat ini, jumlah pengungsi Palestina di seluruh dunia mencapai lebih dari enam juta jiwa, dengan sebagian besar tinggal di wilayah Palestina dan negara-negara tetangga. Setelah serangan Israel ke Gaza pada Oktober 2023, sekitar 1,9 juta warga Palestina kehilangan tempat tinggal. Sejak pendudukan Palestina pada 1948, lebih dari 150.000 warga Palestina telah menjadi korban jiwa. Laporan PBB menyebutkan bahwa dalam satu tahun terakhir, 92% rumah di Gaza hancur, dan 90% penduduknya menjadi pengungsi.

Penolakan Global terhadap Rencana Trump

Reaksi internasional terhadap rencana Trump hampir seragam. Arab Saudi, Mesir, dan Yordania secara tegas menolak rencana tersebut. Arab Saudi menyatakan bahwa mereka tidak dapat menormalisasi hubungan dengan Israel selama rencana ini masih ada. Uni Eropa juga menegaskan bahwa satu-satunya solusi yang dapat diterima adalah Solusi Dua Negara serta rekonstruksi Gaza.

Para analis berpendapat bahwa meskipun pemerintah sering kali lebih mementingkan kepentingan nasional dibandingkan dengan norma dan hukum internasional, mereka tetap menolak pelanggaran besar terhadap hukum tersebut. Selain itu, jika para pemimpin Arab dan Barat menerima rencana semacam ini, mereka akan menghadapi reaksi keras dan tekanan dari opini publik di negara mereka masing-masing.

Mengapa Rencana Perdamaian Selalu Gagal?

Pakar hubungan internasional, Hassan Hanizadeh menyatakan bahwa selama delapan dekade terakhir, Amerika Serikat hanya berfokus pada kepentingan Israel. Demi menjaga keamanan Israel, mereka terus menekan rakyat Palestina agar meninggalkan Gaza. Karena itulah, setiap rencana Amerika terkait Palestina selalu menemui kegagalan. Trump sendiri ingin menciptakan kondisi di mana Israel memiliki dominasi penuh di Kawasan, dan inilah alasan mengapa banyak negara menentang rencananya.

Pada Mei lalu, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei menyatakan: “Menurut kami, masalah di Asia Barat tidak akan terselesaikan sampai Palestina kembali kepada pemiliknya yang sah. Bahkan jika mereka mencoba mempertahankan rezim ini selama 20 atau 30 tahun lagi—dan Insya Allah mereka tidak akan berhasil—masalah ini tidak akan terselesaikan. Masalah ini hanya bisa diselesaikan ketika Palestina dikembalikan kepada pemilik aslinya, yaitu rakyat Palestina sendiri. Palestina adalah milik mereka, baik Muslim, Kristen, maupun Yahudi yang tinggal di sana. Biarkan mereka membangun sistem pemerintahan mereka sendiri.”

Tags: