Loading

Ketik untuk mencari

Iran Opini

Gencatan Senjata Abal-abal, Billboard ‘Persekongkolan’ dan Parade Topeng para Pecundang: Episode Terbaru Teater Spektakuler ala Timur Tengah

POROS PERLAWANAN — Akhirnya, dunia menyaksikan momen megah itu, saat Presiden Amerika Serikat sekaligus maestro reality show global, Donald Trump, berdiri dengan dada membusung, mengumumkan “gencatan senjata” antara Israel dan Iran. Pada hari itu Senin, 23 Juni 2025, seolah perdamaian bukan hasil diplomasi berdarah, tapi hanya hasil rias wajah untuk keperluan kamera.

Tentu saja, seperti semua drama kelas Broadway, panggung ini tak butuh waktu lama untuk berganti latar. Hanya dua hari setelah deklarasi “perdamaian”, sebuah billboard raksasa menjulang di langit Tel Aviv terang-benderang bagai wahyu neon dari surga Zionisme. Di saat satu pihak bicara soal gencatan senjata, pihak lain sudah memutar lampu sorot, menyalakan kembang api, dan merilis kampanye “Aliansi Abraham: Saatnya untuk Timur Tengah Baru”.

Oh, betapa menyentuh. Tampaknya perang bukan lagi soal darah, tetapi soal waktu peluncuran branding yang tepat.

Di papan reklame itu, entah dibayar dengan Dolar pajak atau Dirham kompromi, terpampang enam wajah pemimpin Arab bersanding mesra dengan Donald Trump sendiri. Sekilas mirip poster konferensi investasi atau gala dinner korporat, tapi ini sebenarnya adalah parade visual dari regionalisme kosmetik yang ingin didandani sebagai “perdamaian”.

Beberapa wajah pemimpin Arab bersanding dengan Trump: dari presiden HTS yang entah dipilih siapa, sampai putra mahkota gurun yang sekarang jadi duta investasi drone. Semua berpose, semua tersenyum, semua konon, untuk “perdamaian”. Di tengah mereka tentu saja, ada agen pemasaran Timur Tengah Baru, Donald Trump, yang tampil gagah dengan senyum khas seorang sales executive yang tengah menawarkan paket geopolitik: “Stabilitas tanpa resistansi! Hari ini beli dua, besok gratis invasi!”

Slogan besar “Saatnya untuk Timur Tengah Baru” berkedip di layar LED, seakan Timur Tengah yang lama hanyalah versi beta, buggy, tidak efisien, dan terlalu banyak perlawanan.

Namun yang luput disampaikan adalah bahwa “baru” di sini artinya: satu blok negara boneka, terprogram dalam orbit Tel Aviv-Washington, siap bersatu… untuk memerangi Iran dan menumpas tiap percikan kemandirian regional.

Sementara itu, jauh dari kerlap-kerlip LED dan janji manis “normalisasi”, rakyat Palestina di Gaza masih menggali anak-anak mereka dari reruntuhan rumah. Warga Quneitra di Suriah selatan hidup dalam bayang-bayang drone, suara mesin di langit lebih rutin dari doa fajar. Di selatan Lebanon, keluarga menyembunyikan anak-anak di ruang bawah tanah tiap malam, berharap suara rudal bukan alarm penutup hidup mereka. Di satu sisi billboard “perdamaian”, di sisi lain kuburan massal.

Koalisi Keamanan Regional, sponsor resmi papan reklame ini, menyebut proyek mereka sebagai “perisai besi dari ancaman Iran dan proksinya”. Dalam salah satu pernyataan resminya, Benyamin Netanyahu dengan senyum setipis kulit peluru, berkata: “Sebuah jendela peluang telah terbuka untuk perjanjian perdamaian yang lebih luas. Kita tidak boleh melewatkannya. Kita tidak boleh menyia-nyiakan satu hari pun.”

Ah, tentu perdamaian dan investasi. Dua kata yang tampaknya kini lebih sakral ketimbang nyawa anak-anak di Jenin, di Deir Ezzor, atau di Nabatiyeh. Dalam dunia baru versi Koalisi, kata “normalisasi” bukan berarti penerimaan realitas, tapi perayaan atas distorsi realitas. Sementara “perisai besi” adalah nama lain dari pagar tinggi yang dibangun untuk membungkam suara perlawanan.

Billboard itu tidak hanya menyulap perang menjadi perjanjian damai, tapi juga menyulap kolaborasi dengan penjajah menjadi prestasi geopolitik. Inilah Timur Tengah Baru mereka: di mana peluru bisa diam sebentar asal kamera tetap menyala. Di mana senjata bisa disimpan sementara, asal pelatihan terus berlanjut. Di mana pemimpin bisa berpose bersama dalam iklan besar, sementara rakyat mereka dikunci dalam babak panjang yang tak pernah mereka tulis.

Akhir kata: dalam teater geopolitik ini, gencatan senjata hanyalah jeda iklan. Lalu bagaimana halnya dengan billboard itu? Mungkin itulah satu-satunya bagian dari narasi ini yang benar-benar jujur. Karena ternyata, tak satu pun dari mereka punya sedikit rasa malu untuk mengumbar sesi foto bersama.

Tags: