Hasil Survei ‘Pelucutan Senjata Perlawanan’ di Lebanon: Mayoritas Rakyat Dukung Hizbullah
POROS PERLAWANAN – Keputusan Pemerintah Lebanon untuk melucuti senjata Perlawanan, yang dinilai banyak pihak tidak nasional dan mengabaikan realitas keamanan, mendapat penolakan luas dari publik. Hasil survei terbaru menunjukkan mayoritas rakyat Lebanon, lintas sekte dan afiliasi politik, menegaskan penolakan terhadap rencana tersebut dan menilai bahwa Militer serta Pemerintah Lebanon tidak memiliki kapasitas untuk mempertahankan negara dari agresi luar.
Menurut Tasnim News Agency pada Senin 11 Agustus, jajak pendapat ini memperlihatkan bahwa perlawanan tetap menjadi pilihan strategis bagi rakyat Lebanon, tidak hanya di kalangan Syiah tetapi juga Sunni, Kristen, dan Druze. Mereka memandang keberadaan senjata Perlawanan sebagai faktor pencegah agresi, terutama dari Israel, dan bagian penting dari kekuatan nasional.
Survei dilakukan oleh Departemen Statistik dan Jajak Pendapat di Pusat Konsultasi Studi dan Dokumentasi Lebanon antara 27 Juli dan 4 Agustus, mencakup 600 responden (54% laki-laki, 46% perempuan) dari berbagai wilayah, sekte, dan latar belakang politik. Komposisi partisipan terdiri dari 30% Syiah, 30% Sunni, 34% Kristen, dan 7% Druze.
Temuan Utama Survei
1. 60% responden menolak pelucutan senjata tanpa disertai strategi pertahanan nasional yang memadai. Penolakan ini mencakup 50% Sunni, 32% Kristen, dan mayoritas Druze.
2. 72% menilai Militer Lebanon sendiri tidak mampu menghadapi agresi Israel.
3. 76% percaya diplomasi semata tidak cukup untuk mencegah atau menghentikan agresi militer.
4. 96% responden Syiah, 50% Sunni, 46% Druze, dan 32% Kristen menolak pelucutan senjata Perlawanan dalam kondisi pertahanan saat ini.
5. Tingkat kepercayaan terhadap Kementerian Luar Negeri Lebanon berada di posisi terendah, mencerminkan penolakan publik terhadap kebijakan luar negeri yang diidentikkan dengan partai Pasukan Lebanon pimpinan Samir Geagea.
Selain itu, mayoritas responden memandang perkembangan terkini di Suriah sebagai ancaman eksistensial bagi Lebanon. Kekhawatiran ini paling menonjol di kalangan Syiah (88%) dan Druze (83%), diikuti Kristen (68%) dan Sunni (62%). Peristiwa di provinsi Sweida, Suriah, disebut sebagai pemicu utama persepsi ancaman ini.
Analisis: Pesan Strategis dari Publik Lebanon
Hasil survei ini merupakan mandat politik dan moral yang jelas, bahwa rakyat Lebanon, meski berbeda sekte dan pandangan politik, memahami bahwa kekuatan Perlawanan bukan sekadar aset militer, melainkan justru penopang utama kedaulatan nasional.
Konsensus publik ini memberi tiga pesan strategis:
1. Legitimasi Senjata Perlawanan: Dukungan lintas-sekte membuktikan bahwa isu ini melampaui identitas politik atau agama, menjadi bagian dari narasi pertahanan nasional.
2. Kelemahan Negara dalam Pertahanan Mandiri: Persepsi bahwa Militer dan Pemerintah tidak mampu menghadapi ancaman eksternal memperkuat argumen keberadaan Hizbullah sebagai pelengkap, bukan pesaing, institusi negara.
3. Konteks Regional yang Memburuk: Ancaman dari perkembangan di Suriah, khususnya potensi penyusupan kelompok Takfiri atau destabilisasi di perbatasan, mendorong rakyat Lebanon untuk mempertahankan kekuatan bersenjata non-negara sebagai lapis perlindungan tambahan.
Hasil ini sekaligus menjadi penegasan terhadap upaya Arab Saudi, Amerika Serikat, dan Israel yang mendorong pelucutan senjata Hizbullah melalui tekanan politik dan diplomasi internasional. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa tanpa strategi pertahanan komprehensif, mayoritas rakyat Lebanon melihat langkah tersebut bukan hanya keliru, melainkan juga berbahaya bagi kelangsungan eksistensi negara.
