Loading

Ketik untuk mencari

Lebanon

Hizbullah Gandakan Jumlah Rudal Presisi Hanya dalam Setahun, Seluruh Wilayah Pendudukan Kini dalam Jarak Tembaknya

POROS PERLAWANAN – Dilansir Press TV, Sekretaris Jenderal Hizbullah mengatakan bahwa gerakan perlawanan Lebanon, dalam waktu hanya satu tahun, telah melipatgandakan ukuran persenjataan misilnya, dan membuat seluruh wilayah pendudukan berada dalam jangkauan proyektil presisi.

Berbicara kepada jaringan televisi Lebanon al-Mayadeen Minggu malam, Sayyid Hassan Nasrallah berkata, “Jumlah rudal presisi yang dimiliki Poros Perlawanan (Hizbullah) sekarang telah dua kali lipat dari tahun lalu.”

“Setiap target di seluruh wilayah pendudukan Palestina yang ingin kami pukul secara akurat, kami dapat mencapainya dengan akurat,” katanya kepada jurnalis kawakan Ghassan bin Jiddo.

Gerakan tersebut melakukan dua perang besar melawan Lebanon pada tahun 2000-an, memaksa militer Israel mundur secara memalukan pada kedua kesempatan tersebut.

Nasrallah menyatakan bahwa Hizbullah bertekad untuk membalas pembunuhan Israel terhadap salah satu anggotanya, Ali Kamel Mohsen Jawad, dalam serangan udara di Suriah pada 20 Juli lalu.

Sejak serangan itu, militer Israel bersiaga tinggi di dekat perbatasan Lebanon, takut akan pembalasan oleh Hizbullah. Para ahli mengatakan bahwa beberapa tindakan “menghibur diri” oleh pasukan Israel seperti menerbangkan drone di dekat perbatasan telah mengungkap tingkat kepanikan di internal pasukan rezim tersebut.

Dalam wawancaranya, Sekjen Hizbullah mengatakan penerbangan drone Israel yang tak henti-hentinya di langit Lebanon mencerminkan “kebingungan” rezim. Hizbullah, katanya, memiliki senjata yang memadai untuk melawan drone dan menembaki mereka beberapa kali.

“Penerbangan pesawat tak berawak Zionis di wilayah udara Lebanon menunjukkan ketakutan yang kuat atas tanggapan dari [gerakan] Poros Perlawanan. Israel tahu bahwa kami menembakkan senjata yang tepat ke pesawat tak berawak mereka tanpa mengungkapkannya,” kata Nasrallah.

Nasrallah juga menyinggung perjanjian normalisasi yang diinduksi AS antara beberapa negara Arab dan Israel, yang telah membuat Uni Emirat Arab, Bahrain, Sudan, dan Maroko merangkul Tel Aviv.

Nasrallah mengatakan bahwa pesta normalisasi itu tidak mengherankan karena “sebagian besar rezim Arab terbiasa hanya menjual kata-kata kepada Palestina”.

“Tidak ada di dunia ini yang membenarkan… menyerahkan Palestina,” katanya.

Perjanjian normalisasi, kata Nasrallah, membantu mengakhiri periode “kemunafikan” dan menunjukkan bahwa “topeng telah jatuh” dan sifat sebenarnya dari rezim-rezim ini telah terungkap.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *