Iran Nilai Platform Digital Asing ‘Berperan Penting’ dalam Kerusuhan Januari 2026
POROS PERLAWANAN — Otoritas Iran menilai terputusnya jaringan komunikasi para pelaku kerusuhan segera setelah pembatasan akses internet, sebagai indikator kuat keterkaitan langsung antara aksi di lapangan dan jaringan pengendali di luar negeri. Berbagai perangkat elektronik yang digunakan para pelaku disebut gagal menjaga koneksi dengan koordinator utama dan penggerak aksi.
Menurut Fars News Agency pada Selasa 20 Januari, pola ketergantungan serupa telah berulang dalam berbagai episode ketegangan sebelumnya, mulai dari peristiwa 2009, 2017, 2019, 2022, hingga Perang 12 Hari. Dalam setiap fase, ruang digital disebut memainkan peran kian dominan, dengan dampak yang semakin mahal secara sosial, ekonomi, dan keamanan.
Sejumlah analis menilai kegagalan sebagian pengambil kebijakan dalam menarik pelajaran dari pola tersebut membuka ruang bagi pengulangan kerusuhan. Ketidaktegasan dalam pengelolaan ruang digital dinilai memberi keyakinan kepada pihak lawan untuk kembali mendorong skenario ketidakstabilan.
Konsep perang lunak, perang kognitif, dan perang hibrida disebut tidak dapat berjalan efektif tanpa infrastruktur digital. Tanpa jejaring komunikasi daring, proses pengorganisasian, perekrutan, pelatihan, hingga mobilisasi massa dinilai sulit dilakukan secara cepat dan terkoordinasi.
Dalam konteks ini, Iran menyoroti kebijakan sejumlah negara seperti Prancis, Turki, dan Korea Selatan yang menerapkan regulasi ketat terhadap platform digital asing. Sebaliknya, kelonggaran terhadap aktivitas platform global tanpa pengawasan dinilai membuka ruang luas bagi operasi pengaruh, manipulasi informasi, dan perang persepsi.
Contoh Amerika Serikat dan TikTok
Sebagai pembanding, Iran menyinggung proses pemeriksaan panjang United States Congress terhadap TikTok. Dalam sidang terbuka yang berlangsung lebih dari 25 jam, anggota Kongres mempertanyakan dampak platform tersebut terhadap masyarakat Amerika, mulai dari pembentukan gaya hidup hingga isu keamanan nasional.
Dari proses tersebut, Kongres menyimpulkan bahwa perlindungan kedaulatan dan tata kelola nasional menuntut dua opsi: TikTok tunduk sepenuhnya pada hukum Amerika Serikat dengan perubahan kepemilikan, atau menghentikan operasinya di negara tersebut. Keputusan ini dipandang sebagai bukti bahwa bahkan negara yang mengeklaim kebebasan informasi tidak sepenuhnya menoleransi platform asing tanpa kendali.
Pesan Politik dan Dinamika Regional
Dalam perkembangan terpisah, Iran juga menyoroti pesan terbuka Presiden Iran, Masoud Pezeshkian kepada Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menegaskan bahwa setiap bentuk ancaman terhadap kepemimpinan tertinggi Iran dipandang sebagai konfrontasi langsung dengan rakyat Iran.
Sikap tersebut mengemuka di tengah meningkatnya ketegangan global dan meluasnya polarisasi geopolitik. Iran menilai kepemimpinan Ayatullah Ali Khamenei selama beberapa dekade terakhir sebagai faktor kunci dalam menjaga stabilitas nasional, termasuk dalam menghadapi tekanan eksternal dan konflik terbuka, seperti Perang 12 Hari.
Sejumlah pengamat menilai pernyataan keras dari Washington belakangan ini mencerminkan frustrasi atas kegagalan strategi “Tekanan Maksimum”, baik di medan militer maupun melalui skenario kerusuhan internal. Mobilisasi publik dalam berbagai momentum krisis disebut kembali menegaskan posisi kepemimpinan nasional di mata pendukungnya.
Penutup
Iran menyimpulkan bahwa pengelolaan ruang digital tidak lagi dapat dipandang sebagai isu teknis semata, melainkan bagian dari arsitektur keamanan nasional. Tanpa regulasi tegas dan pengawasan efektif terhadap jaringan penyesatan digital, ruang siber dinilai akan terus dimanfaatkan sebagai pintu masuk operasi perang informasi dan upaya destabilisasi dari luar.
