IRGC: Ini Bukan Peringatan, Ini Deklarasi Takdir!
POROS PERLAWANAN – Dalam sebuah pengumuman yang lebih menyerupai siaran kampanye daripada deklarasi diplomatik, Presiden Amerika Serikat, Donald J. Trump, pada Selasa 24 Juni menyatakan bahwa gencatan senjata “penuh dan menyeluruh” telah tercapai antara Israel dan Republik Islam Iran. Disampaikan lewat platform Truth Social, panggung favorit ego dan drama, pernyataan ini justru menimbulkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Bukan hanya tentang validitasnya, melainkan juga motif, urgensi, dan siapa sebenarnya yang membuat siapa tunduk.
Pernyataan Trump, yang dikutip CNN dan Al Jazeera, menyebut bahwa gencatan senjata akan dimulai tepat tengah malam, dan berlangsung sepanjang hari Rabu. Namun, seperti biasa, kata-kata Trump penuh dengan simbolisme, hiperbola, dan kebutuhan akan panggung. Dunia disuruh percaya bahwa sebuah “perang dunia ketiga yang nyaris terjadi” telah dibatalkan hanya lewat satu unggahan pernyataan orang yang merasa paling berkuasa di dunia. Sehingga membuat si pengunggah layak mendapatkan Nobel Perdamaian.
Namun pagi harinya, 24 Juni, dunia kembali diguncang. Bukan oleh rudal atau bom termonuklir, tapi oleh sepenggal kalimat dalam bahasa Ibrani, disampaikan dingin oleh Pasukan Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC) @Sepah_Media:
עכשיו נשארנו רק אנחנו ואתם; לא תהיה לכם שום דרך לברוח.
“Sekarang hanya tinggal aku dan kau; kau tidak akan punya cara lagi untuk melarikan diri.”
Ini bukan dialog film laga. Bukan pula tweet dari selebriti revolusioner. Ini adalah pesan yang diarahkan tepat ke jantung Tel Aviv, sebuah deklarasi simbolik dari medan perang ideologis yang menolak tunduk. Setelah berminggu-minggu melihat kawasan Gaza, Damaskus, dan Lebanon dibombardir oleh artileri Zionis, kini giliran sejarah membalas.
Dua jam berselang, pesan itu ditegaskan dalam bahasa Persia:
این یک هشدار نیست، یک اعلان وضعیت است؛پاسخ ما به هر تجاوزی چند برابر و ویرانگر خواهد بود.
“Ini bukan peringatan, melainkan pengumuman status. Respons kami terhadap agresi apa pun akan berlipat ganda dan menghancurkan.”
Tidak ada syarat. Tidak ada tawar-menawar. Tidak ada negosiasi!
Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Mayor Jenderal Sayyid Abdolrahim Mousavi menyampaikan langsung kepada rakyatnya: “Kami tidak mencari perang, tapi kami tidak akan membiarkan satu jengkal tanah ini diinjak oleh para penjajah tanpa pembalasan berlipat ganda.”
Siapa Takut Mati?
Mari kita jujur. Bagaimana mungkin tentara dengan mental TikTok, yang lebih sering pamer roti isi keju daripada siasat lapangan, bisa berhadapan dengan para pejuang yang mengumandangkan nama Sayyidah Zainab sebelum meluncurkan roket?
Zionis punya Iron Dome dan ilusi keabadian. Namun IRGC punya sesuatu yang tak bisa dibeli atau diunduh: ideologi, kehormatan, dan kesiapan mati dengan senyuman.
Israel masih berharap pada satelit, algoritma, dan panggilan tengah malam ke Washington. Akan tetapi, mereka mungkin lupa: lawan yang tak takut mati adalah lawan yang tak bisa dikalahkan.
Saat IRGC berkata: “Ini bukan peringatan”, mereka tidak sedang mengirim naskah konferensi pers. Mereka sedang membuka bab terakhir dari teater kolonial di Timur Tengah. Tak heran, peta-peta pertahanan kini penuh titik merah: Sderot, Ashkelon, Tel Aviv bahkan koridor Gedung Putih, masuk zona ketegangan yang tak bisa disensor.
Bagaimana dengan reaksi dunia? Dunia seperti biasa pura-pura tuli. Liga Arab mengirim “keprihatinan standar”. Eropa sibuk menghitung saham senjata. PBB? Masih sibuk menggelar rapat.
Hanya Tinggal Aku dan Kau
Saat semua dusta tersingkap, yang tersisa hanya dua aktor: “Aku dan kau.”
IRGC tak kenal basa-basi. Mereka bicara seperti meluncurkan rudal: tepat sasaran, tanpa suara latar.
Kini, IRGC bukan lagi sekadar Angkatan Bersenjata. Mereka adalah pengeras suara bagi bangsa-bangsa yang diinjak sejarah. Mereka tak lagi hanya berbicara untuk Iran, tapi juga untuk Gaza, Damaskus, Baghdad, Sanaa, Beirut dan suara kolektif dari luka yang menolak mati.
Inilah pesan untuk para pengecut yang menyukai perang dari balik layar LED dan bunker anti-rakyat: Kalian tidak sedang menghadapi negara. Kalian sedang menghadapi Perlawanan yang dibentuk dari darah, kehilangan, dan keyakinan yang tak bisa dihancurkan oleh drone buatan Silicon Valley.
Lahirnya Pembebasan Baru
Hari ini, Soft Power Iran telah lahir, bukan di meja konferensi, tapi di tengah puing-puing dan gencatan senjata yang dipaksakan. Sementara itu, Hard Power Iran telah hidup sejak awal. Kini, Iran hanya menunggu satu momen: kehancuran total proyek kolonial bernama Israel.
Tentu kita harus mengucapkan selamat. Atas lahirnya pembebasan bernama Iran. Atas hadirnya peradaban Islam baru yang tak lagi malu-malu. Tak terkecuali, atas realitas yang semakin dekat, bahwa Kemunculan Imam Zaman (a.f) tak lagi sekadar harapan, tapi langkah-langkah yang sudah bisa didengar dari balik reruntuhan.
Dalam semangat inilah, kutipan Ayatullah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei menjadi kunci pemahaman: “Perdamaian yang dipaksakan lebih buruk daripada perang. Salah satu kebutuhan mendasar manusia adalah perdamaian. Namun, senantiasa kami tegaskan bahwa perdamaian harus berjalan beriringan dengan keadilan. Bagi suatu bangsa, perdamaian yang dipaksakan dan tidak adil justru lebih buruk daripada perang itu sendiri.” (23 Mehr 1380 HS/15 Oktober 2001)
Takdir yang Tak Bisa Dinegosiasikan
Maka, wahai Zionis: Silakan kau menghindar. Laut sudah tak mau membelah. Langit sudah muak jadi jalur pelarianmu. Bahkan pangkuan Donald Trump kini terlalu sempit untuk menyembunyikan kegagalan kolonial abad ke-21.
Karena seperti yang dikatakan IRGC: “Ini bukan peringatan. Ini adalah deklarasi takdir.” Takdir itu, sebagaimana sejarah, tidak bisa dinegosiasikan.
