Loading

Ketik untuk mencari

Berita Nasional Opini

Isyarat di Balik Mikrofon: Diplomasi Sunyi Prabowo dan Trump yang ‘Bocor’ di Sharm el-Sheikh

POROS PERLAWANAN — Tidak semua rahasia negara terbongkar lewat dokumen bocor atau mata-mata berbayar. Kadang cukup sebuah mikrofon yang lupa dimatikan, dan bahkan pesannya lebih jujur dari seribu konferensi pers.

Begitulah, pada Senin malam 13 Oktober, di Sharm el-Sheikh, kota resor yang kini lebih sering menjadi tempat pengakuan dosa politik global, Presiden Indonesia, Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump tanpa sengaja memberi dunia sekilas tontonan diplomasi modern, setengah serius, setengah real estate.

“Itu bukan tempat yang aman,” kata Prabowo.

“Saya akan suruh Eric meneleponmu,” jawab Trump.

Kalimat sederhana, tapi cukup untuk membuat analis geopolitik menggosok dagu mereka dengan antusiasme seorang detektif menemukan motif. Sebab dalam dunia tempat “perdamaian” sering jadi nama sandi untuk kesepakatan dagang, setiap sebutan “Eric” terdengar lebih signifikan daripada seluruh isi Deklarasi Gaza.

Forum di Sharm el-Sheikh itu disebut-sebut sebagai upaya global menghentikan kekerasan di Gaza. Namun, seperti biasa, perdamaian tampaknya bukanlah bisnis yang paling menguntungkan di ruangan itu. Antara pidato moral dan foto grup, terselip transaksi yang lebih relevan bagi masa depan dunia, yakni akses, proyek, dan pengaruh.

Trump, tentu saja, bukan orang yang asing dengan diplomasi berbasis properti. Baginya, perjanjian internasional hanyalah versi lain dari leasing agreement, hanya dengan lebih banyak bendera dan lebih sedikit jaminan pengembalian modal.

Sedangkan Prabowo, mantan jenderal itu, kini tampak menikmati perannya sebagai broker geopolitik, tahu betul bahwa di dunia multipolar, kekuasaan tak lagi ditentukan oleh ideologi, tapi oleh siapa yang lebih cepat menandatangani MoU sambil tersenyum.

Trump Organization, yang punya jejak bisnis di Jakarta dan Bali, tiba-tiba muncul dalam kamus geopolitik. Bukan sebagai investor, tapi sebagai perpanjangan informal dari kebijakan luar negeri Amerika, ya… semacam State Department with golf courses.

Jika dulu Washington menyebarkan demokrasi lewat kapal perang, kini cukup lewat jaringan properti keluarga. Murah, cepat, dan bisa dibungkus dengan slogan “investasi bersama”.

Namun di balik sinisme itu, ada ironi yang lebih halus, bahwa Indonesia, dengan sejarah panjang melawan dominasi asing, kini mungkin justru memainkan permainan yang sama di bawah Prabowo, hanya dengan kostum yang berbeda. Prabowo tampak paham bahwa di panggung dunia saat ini, moralitas hanyalah mata uang yang sudah tidak laku, tapi pragmatisme masih bisa diperdagangkan dengan harga premium.

Jadi, apakah bocornya percakapan itu kebetulan? Mungkin. Meski dunia jarang bekerja lewat kebetulan. Dalam geopolitik, mikrofon yang lupa dimatikan sering kali hanya cara bagaimana Tuhan memberi leak yang lebih kredibel dari WikiLeaks.

Toh, bagi banyak pemimpin, kata-kata yang diucapkan tanpa sadar adalah satu-satunya saat mereka benar-benar berkata jujur.

Tags: