Trump Ngaku Cinta Perdamaian, Tapi Pilih Bungkam Soal Hak Palestina Dirikan Negara
POROS PERLAWANAN – Usai kembali dari lawatan singkat ke Asia Barat dan menghadiri KTT Mesir tentang Gaza, Donald Trump menolak menjawab langsung saat ditanya wartawan di pesawat: apakah dia mendukung pengakuan negara Palestina atau tidak?
Fars melaporkan, Trump yang di Sharm Sheikh menandatangani kesepakatan gencatan senjata Gaza, menanggapi pertanyaan di atas dengan berkata,”Saya tidak bicara tentang satu atau dua negara. Kita bicara tentang rekonstruksi Gaza. Banyak yang mendukung solusi Satu Negara, sementara yang lain memilih solusi Dua Negara. Kita harus lihat apa yang akan terjadi. Sampai saat ini saya belum mengutarakan pendapat.”
Keengganan Presiden AS ini terjadi hanya beberapa pekan setelah ia mengkritik meningkatnya dukungan internasional untuk pembentukan negara Palestina, yang disuarakan bahkan oleh sebagian sekutu AS, seperti Prancis.
Dalam pidato terakhirnya di Majelis Umum PBB beberapa waktu lalu, Trump menyebut pengakuan negara Palestina sebagai “hadiah untuk Hamas.”
Para analis menyatakan, proposal Trump untuk Gaza sama sekali tidak menunjukkan koridor untuk perdamaian permanen. Proposal itu juga tidak menjelaskan komitmen Israel terhadap isi kesepakatan.
Robert Malley, mantan pejabat AS yang pernah aktif di beberapa Pemerintahan AS sebelumnya dalam urusan terkait Asia Barat, mengungkap kesangsiannya mengenai kemungkinan pelaksanaan fase-fase berikutnya dari proposal Donald Trump untuk Gaza.
Dia menganggap gencatan senjata, pembebasan tahanan dan sandera, masuknya bantuan kemanusiaan, dan penarikan pasukan Israel sebagai bagian dari poin-poin krusial yang dapat dilaksanakan dalam proposal berisi 20 poin yang digagas Trump untuk masa depan Gaza.
Meski demikian, ia menyatakan keraguan tentang pelaksanaan penuh rencana tersebut dan mengatakan,“Saya tidak yakin bagian-bagian lain dari rencana tersebut akan dilaksanakan sesuai dengan yang tertulis.”
“Proses perdamaian tidak hanya gagal membuahkan hasil, tetapi juga menjadi kamuflase untuk kelanjutan dan memburuknya situasi yang ada dan berujung pada bencana yang kita saksikan hari ini,” ujarnya.
