Loading

Ketik untuk mencari

Palestina Profil

Jamal Abu Al-Hija: Si ‘Gunung Kesabaran’ dan Simbol Keteguhan Tahanan Palestina yang Ditakuti Israel

POROS PERLAWANAN — Di kamp pengungsi Jenin, di antara rumah-rumah bata yang dikelupas waktu dan debu perang, nama Jamal Abu Al-Hija diucapkan dengan nada hormat, kadang lirih, kadang dengan dada yang membuncah. Bagi banyak warga Palestina, nama itu bukan hanya tahanan. Nama itu adalah simbol bahwa manusia bisa dirantai tubuhnya, tapi tidak jiwanya.

Selama 24 tahun, Sheikh Jamal mendekam di penjara Israel. Dua puluh empat tahun, lebih lama dari sebagian besar usia anak-anak yang kini tumbuh tanpa pernah mengenalnya, tapi menghafal namanya seolah mereka pernah duduk di hadapannya.

Jamal Abu Al-Hija lahir pada 1959, di kamp pengungsi Jenin, dari keluarga yang terusir dari Ain Hawz, Haifa, ketika tanah Palestina direbut pada Nakba 1948. Hidupnya bermula dari pengungsian, dan berakhir, setidaknya untuk kini, di balik dinding beton penjara.

Dari Guru Bahasa ke Komandan Perlawanan

Abu Al-Hija bukan seorang prajurit sejak awal. Dia seorang guru bahasa Arab, berpendidikan, tenang, yang sempat mengajar di Arab Saudi dan Yaman. Bahasa adalah rumahnya, bukan senjata. Namun sejarah punya cara sendiri menulis ulang nasibnya.

Ketika Intifada Kedua meledak pada awal 2000-an dan Jenin dihancurkan oleh pasukan Israel, Sheikh Jamal tak lagi mengajar kata-kata, dia memimpin tindakan. Jamal Abu Al-Hija menjadi salah satu Komandan sayap militer Hamas, Brigade Izzuddin al-Qassam, dan akhirnya ditangkap pada 2002.

Israel menjatuhkan sembilan kali hukuman seumur hidup. Hukuman yang, dalam bahasa mereka, berarti: “Kami tidak akan membiarkanmu bebas bahkan setelah mati”.

Keluarga yang Tak Pernah Lepas dari Penjara

Kisah Jamal tidak bisa dipisahkan dari keluarganya, karena semuanya ikut menanggung hukuman. Enam anaknya tumbuh dengan bayangan jeruji. Tiga di antaranya, Asim, Abdul Salam, dan Imad, kini juga berada di penjara Israel. Putranya yang lain, Hamza, gugur pada 2014 dalam bentrokan bersenjata di usia 21 tahun. Putrinya Banan sempat ditahan, sementara Sajida, anak bungsu yang dulu masih berusia enam tahun ketika rumah mereka digerebek, kini menjadi satu-satunya anggota keluarga yang bebas.

“Terakhir kali saya melihat ayah saya lima tahun lalu,” ujar Sajida pelan. “Tentara datang malam-malam. Mereka menendang pintu, menodongkan senjata, lalu mencoba membujuk kami, anak-anak kecil, dengan permen. Mereka pikir kami bisa menjual ayah kami untuk sepotong gula-gula.”

Kini Sajida berbicara dengan nada yang sama seperti ayahnya: tenang, tegas, tanpa keluhan. Sajida tahu ayahnya kehilangan satu tangan dalam Intifada Kedua, kehilangan istri beberapa bulan lalu, kehilangan hampir segalanya, kecuali kepercayaannya kepada Tuhan dan bangsanya.

Gunung Kesabaran

Di penjara, Jamal Abu Al-Hija dijuluki “Gunung Kesabaran”. Rekan-rekannya mengatakan bahwa dalam ruang sempit tempat cahaya nyaris tak masuk, ia tetap tersenyum. Ia mendengarkan, menasihati, mengajar ayat-ayat, dan menanamkan keyakinan bahwa penjara hanyalah “perhentian singkat dalam jalan panjang menuju kebebasan”.

“Syekh Jamal tak pernah marah,” kata Rabi’ Al-Barghouthi, sesama tahanan. “Dia bicara dengan lembut, bahkan kepada penjaga penjara. Kami belajar darinya bahwa ketenangan bisa lebih tajam dari peluru.”

Baginya, sabar bukan pasrah. Sabar adalah bentuk perlawanan yang tak bisa dikalahkan.

Terlalu Berbahaya untuk Dilepaskan

Israel menolak keras membebaskan Jamal dalam setiap negosiasi pertukaran tahanan. Mereka menyebutnya “terlalu berpengaruh”.

Kekhawatiran mereka bukan soal senjata, melainkan karisma dan keyakinan, dua hal yang tak bisa disita atau dibelenggu bahkan dengan rantai.

Nama Abu Al-Hija selalu berada di daftar permintaan, tapi selalu dicoret di detik terakhir. Dia sejajar dengan tokoh-tokoh seperti Marwan al-Barghouthi, Ahmed Saadat, dan Hassan Salameh, para figur yang dianggap mampu menyalakan kembali bara perlawanan jika keluar dari balik jeruji.

Lebih dari Seorang Tahanan

Bagi rakyat Palestina, Sheikh Jamal bukan hanya nama di daftar panjang tahanan politik. Dia adalah manifestasi keteguhan, bukti bahwa penjara, penindasan, bahkan kehilangan, tidak cukup kuat untuk memadamkan semangat.

Setiap kali nama “Jamal Abu Al-Hija” disebut, orang-orang di Jenin tersenyum getir. Karena mereka tahu, di balik tembok yang tinggi itu, masih ada seorang guru yang terus mengajar, bukan dengan kata-kata, tapi dengan keteguhan yang tidak pernah menyerah pada waktu.

Tags: