Unjuk Model Canggih Perang Gerilya Modern, Perlawanan Palestina Sukses Permainkan Jiwa dan Mental Tentara Israel di Gaza
POROS PERLAWANAN – Dilaporkan Fars, sejak dimulainya kembali perang pada Maret 2025, menyusul pembatalan sepihak gencatan senjata oleh Israel, skala agresi Militer Zionis meningkat drastis. Namun, tanpa harus mengumbar slogan, Gaza benar-benar berubah menjadi sebuah rawa mematikan bagi para serdadu Israel. Dalam satu pekan terakhir, volume serangan dan sergapan Perlawanan, juga jumlah serdadu Israel yang tewas, bahkan membuat forum-forum Zionis tercengang.
Mereka berkali-kali mempertanyakan: apa tindakan yang harus dilakukan, tapi belum dilakukan Militer Israel untuk menghancurkan Hamas serta faksi-faksi Perlawanan lainnya?
Militer Israel tidak pernah mengambil pelajaran dari masa lalu atau kejadian-kejadian 9 bulan terakhir. Operasi-operasi militernya di al-Shojaiyah, Jabaliya, al-Zaitun,, dan Khan Younis menunjukkan pola kegagalan yang berulang: masuk, mundur, pulang, menderita kerugian, kejatuhan mental, dan pada akhirnya, mengarang narasi kemenangan.
Kenapa tren ini terus berulang? Sebabnya jelas: Israel tidak pernah memiliki opsi politis atau strategis yang jelas. Israel tak punya kemampuan untuk menghancurkan Hamas, juga tidak bisa membuat pemerintahan alternatif di Gaza. Sebab itu, operasi-operasi darat berubah menjadi tindakan tanpa tujuan; hanya untuk mengulur waktu supaya mungkin ada perkembangan yang muncul, seperti tekanan AS atau runtuhnya Perlawanan dari dalam. Namun bahkan harapan-harapan ini pun tidak lagi berguna untuk sekarang.
Terlepas dari slogan dan emosi, Perlawanan Palestina hari ini telah menunjukkan sebuah model canggih perang gerilya modern. Berbeda dengan tentara klasik, Perlawanan Palestina tidak butuh menguasai tanah untuk mendeklarasikan kemenangan. Cukup dengan hanya menimpakan kerugian, Perlawanan mampu meruntuhkan mitos superioritas Militer Israel dan menebar benih ketakutan di hati para serdadu Zionis.
Hancurnya tank-tank Merkava, upaya menawan para serdadu, dan penyergapan di kawasan-kawasan seperti al-Tufah dan Abasan, bukan sekadar operasi-operasi taktis, namun memiliki pesan strategis yang jelas: Perlawanan bertindak dengan penuh keyakinan, mengetahui kondisi pasukan Israel, dan memegang kendali pertempuran.
Radio Militer Israel mengakui, Hamas mampu merekonstruksi komando lapangannya. Meningkatnya volume operasi adalah bukti sebuah perencanaan dan koordinasi tingkat tinggi.
Dengan demikian, Israel berhadapan dengan Perlawanan yang tahu kapan, di mana, dan bagaimana menyerang. Lebih penting dari itu, Perlawanan tahu “kenapa” harus menyerang.
Israel tidak lagi bisa mengontrol narasi. Video-video yang dipublikasikan Brigade al-Qassam dan al-Quds menjadi sebuah instrumen psy war yang meruntuhkan ilustrasi serdadu Israel di benak audiens dan membuat keunggulan teknis Zionis diragukan.
Film upaya penawanan seorang serdadu Israel di Khan Younis bukan sekadar rekaman sebuah operasi, namun merupakan redefinisi konsep prevensi: serdadu Israel kabur, pasukan Perlawanan merobohkannya, mengambil senjatanya, dan mundur dengan sangat tenang. Adegan ini melukiskan sebuah psy war yang sama berpengaruhnya dengan perang militer.
Pesan untuk masyarakat Zionis jelas: “Militer kalian kalah dan para serdadu kalian runtuh dalam pukulan pertama.” Ini tepat menargetkan harga diri nasional Israel, sama persis ketika AS dipecundangi di Vietnam.
Benyamin Netanyahu, yang menjadi buronan Mahkamah Pidana Internasional, melanjutkan perang bukan demi alasan keamanan, tapi demi karier politiknya. Dia menunda-nunda Pemilu, melemahkan Badan Yudikatif, menyingkirkan para rival, dan mengarang teori untuk menduduki Gaza secara permanen.
Kengototan Netanyahu untuk melanjutkan perang dan klaim penghancuran total Hamas dalam 60 hari tidak lebih dari sekadar alasan untuk meneruskan agresi. Namun dia dan para komandannya tahu benar bahwa Hamas tidak dilucuti dan juga tidak akan hancur. Bahkan kini Israel mesti berhadapan dengan Perlawanan yang lebih tangguh dan terorganisasi dari sebelumnya.
Di sinilah dilemanya: semakin lama perang berlanjut, semakin besar pula biayanya, bukan hanya untuk Gaza, tapi juga untuk Israel sendiri.
Perlawanan tidak hanya bertempur di medan, tapi juga memanajemen konflik dengan cermat. Saat ini, Perlawanan berunding dengan bahasa kekuatan; tiap operasi adalah pasal baru di atas meja perundingan di Doha. Tewasnya tiap serdadu, hancurnya tiap tank, dan tersebarnya tiap video, merupakan tekanan yang menyeret Israel ke arah kesepakatan atau kebinasaan.
Bahkan Militer Israel sendiri tak lagi berminat menetap di Gaza. Mereka tahu bahwa berlanjutnya kehadiran mereka di sana akan mengubah mereka dari pasukan perang menjadi polisi lokal; artinya adalah hilangnya semangat tempur, lenyapnya identitas Militer dan menanggung kerugian yang tak mampu dipikul.
