Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

Kekhawatiran Zionis atas Bayang-Bayang Terulangnya ‘Badai Al-Aqsa’

POROS PERLAWANAN – Dua tahun setelah operasi besar Badai Al-Aqsa mengguncang fondasi keamanan Rezim Pendudukan, ketakutan kini kembali menyelimuti institusi keamanan dan publik Zionis. Laporan terbaru Institut Penelitian Keamanan Dalam Negeri Israel (INSS) menunjukkan fakta yang sulit disangkal: Rezim Zionis tengah berada dalam fase ketidakstabilan psikologis, politik, dan strategis yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Erosi Kepercayaan dan Krisis Legitimasi

Hasil survei INSS menunjukkan 63 persen warga Zionis telah kehilangan kepercayaan terhadap Kabinet Netanyahu, menilai perang Gaza tidak lagi memiliki arah strategis selain memperdalam keterasingan internasional Israel.

Ketidakpercayaan ini mencerminkan lebih dari semata krisis politik domestik; ini menandakan keretakan dalam kontrak sosial Rezim Pendudukan, kontrak yang sejak awal dibangun atas mitos keamanan dan kekuatan militer yang tak tertandingi.

Ketika mitos itu runtuh di hadapan realitas Badai Al-Aqsa, rakyat Zionis kini mulai mempertanyakan kemampuan rezimnya sendiri dalam menjamin keamanan eksistensial mereka.

 

Bayang-Bayang Operasi Ulangan

Lebih dari separuh responden survei menyatakan kekhawatiran mendalam akan kemungkinan terulangnya serangan skala besar seperti Operasi Badai Al-Aqsa. Ketakutan ini menunjukkan bahwa trauma strategis yang ditinggalkan operasi tersebut masih membekas kuat di benak Militer maupun masyarakat Zionis.

Bagi banyak analis keamanan, Israel kini hidup di bawah tekanan psikologis permanen, bayangan ancaman yang tidak lagi datang dari luar, melainkan dari ketidakmampuannya sendiri menata ulang strategi deterensi pasca-Gaza.

 

Eksodus Sunyi: Retakan Demografis di Wilayah Pendudukan

Laporan Biro Statistik Pusat Israel yang menunjukkan meningkatnya jumlah warga Zionis yang meninggalkan Wilayah Pendudukan mempertegas pergeseran penting: keamanan yang rapuh mendorong eksodus diam-diam dari dalam.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade, jumlah warga yang keluar dari Wilayah Pendudukan melampaui mereka yang masuk. Fenomena ini menandai perubahan struktur sosial yang menggerus fondasi proyek kolonial Israel sendiri.

Di balik angka statistik itu tersembunyi kenyataan pahit, bahwa rezim yang mengandalkan rasa aman kini gagal menjaminnya bagi rakyatnya sendiri.

 

Kegagalan Proyek Hegemonik

Operasi Badai Al-Aqsa bukan hanya peristiwa militer, ini adalah titik balik geopolitik. Serangan itu mengguncang sistem keamanan regional yang selama ini dibangun di atas ilusi keunggulan absolut Zionis dan perlindungan total Amerika Serikat.

Kini, dua tahun pascaoperasi tersebut, konsep “keamanan Israel” telah tereduksi menjadi slogan kosong, sementara Poros Perlawanan justru tumbuh dengan koordinasi dan kapabilitas yang semakin matang di Gaza, Lebanon, Yaman, dan Irak.

Israel tak lagi menghadapi musuh tunggal, melainkan front perlawanan multidimensi yang menyatu di bawah visi strategis bersama: mengakhiri pendudukan dan menegakkan keseimbangan deterensi baru di Kawasan.

 

Keamanan yang Retak, Kekuasaan yang Menyusut

Survei INSS dan laporan demografis terbaru menunjukkan satu realitas: Israel sedang kehilangan kemampuan untuk mempertahankan ilusi stabilitas.

Krisis kepercayaan, rasa takut berulangnya Badai Al-Aqsa, dan meningkatnya arus keluar warga Zionis hanyalah gejala dari penurunan sistemik kekuasaan kolonial yang kian tampak di lapangan.

Jika dua tahun lalu Badai Al-Aqsa membuka babak baru dalam konfrontasi antara Poros Perlawanan dan rezim Zionis, maka kini babak itu telah berkembang menjadi ujian eksistensial bagi Israel itu sendiri.

Tags: