Kelindan Danantara dan BlackRock di Tengah Bungkamnya Mereka yang Sibuk Menghitung Laba
POROS PERLAWANAN – Raksasa keuangan global BlackRock Inc. kembali melakukan pemangkasan terhadap 300 karyawan, menandai gelombang kedua PHK hanya dalam waktu enam bulan. Namun di balik narasi efisiensi korporat dan ekspansi bisnis, pemutusan hubungan kerja ini membuka tabir yang lebih kelam: tentang bagaimana kekuatan modal global seperti BlackRock menata ulang dunia dengan mengorbankan rakyat kecil, dari buruh di Wall Street hingga rakyat yang dijajah di Gaza.
Menurut laporan Bloomberg pada 6 Juni, langkah pemangkasan ini terjadi di tengah agresivitas ekspansi BlackRock, yang membelanjakan lebih dari US$28 miliar untuk menguasai infrastruktur, data, dan aset kredit privat di berbagai belahan dunia. Perusahaan ini kini mengelola dana sebesar US$11,6 triliun, sumber kekuatan senyap yang mengontrol segalanya, dari harga pangan hingga arah kebijakan luar negeri Amerika.
Namun yang jarang dibicarakan publik Indonesia adalah bahwa BlackRock juga termasuk investor aktif dalam portofolio Israel, termasuk sektor teknologi militer dan infrastruktur yang menopang pendudukan di wilayah Palestina. Artinya, dana yang dikelola perusahaan ini bukan sekadar angka, melainkan darah dan penderitaan yang mengalir dalam setiap kilobyte profitnya.
“Setiap Dolar yang diinvestasikan ke BlackRock, pada dasarnya adalah subsidi terselubung terhadap mesin kolonialisme Zionis,” ujar seorang analis geopolitik di Teheran yang tidak mau disebutkan namanya.
Danantara, Oligarki, dan Diamnya Orang-Orang yang Terlalu Sibuk Menghitung Laba
Ironi kian terasa ketika kita mengaitkannya dengan proyek Danantara di Indonesia, sebuah mega-inisiatif yang dibungkus jargon “pembangunan hijau”, “teknologi masa depan”, dan “kedaulatan digital”. Namun dalam struktur pendanaan dan arsitektur investornya, tampak jelas jejak bayangan dari raksasa global seperti BlackRock dan sekutunya.
Beberapa tokoh nasional, pengusaha, dan eks politisi tampak ikut berbaris dalam skema Danantara. Mereka adalah orang-orang yang, baik secara sadar maupun pragmatis, lebih memilih bungkam terhadap genosida di Palestina, bukan karena kurang informasi, melainkan karena kepentingan ekonomi dan kedekatan dengan modal global.
“Kita menyaksikan sebuah lapisan elite yang bukan hanya abai, tapi aktif menormalisasi penjajahan,” kata seorang pengamat ekonomi-politik independen di Jakarta. “Dan mereka berlindung di balik label ‘profesionalisme’, seolah urusan kemanusiaan adalah gangguan dalam Excel mereka.”
Ketika Gaza dibombardir, bukan hanya senjata yang membunuh, tapi juga investasi-investasi sunyi yang datang lewat saluran seperti BlackRock, diterima oleh Pemerintah boneka, dan diabsahkan oleh orang-orang yang menyebut diri mereka “teknokrat pembangunan”.
PHK di Tengah Kekayaan, Wajah Ganda Kapitalisme
Pemangkasan 300 pekerja oleh BlackRock terjadi bersamaan dengan ekspansi brutal: pembelian Global Infrastructure Partners senilai US$12,5 miliar, akuisisi perusahaan data Preqin, dan kini proses finalisasi atas manajer kredit privat HPS Investment Partners senilai US$12 miliar.
Sementara itu, rakyat yang bekerja di bawah perusahaan-perusahaan ini justru didepak dengan alasan “restrukturisasi”. Mereka adalah buruh-buruh yang diperah untuk mendanai perusahaan yang sebagian keuntungannya mengalir ke proyek kolonial, termasuk permukiman ilegal di Tepi Barat dan industri pengawasan di Israel.
Menurut POROS PERLAWANAN, ini bukan sekadar PHK. Ini adalah wajah dari sistem global yang memberi makan penjajah, menumpahkan darah di Gaza, dan mencuci tangannya di Wall Street.
Narasi Alternatif yang Diabaikan Media Arus Utama
Sebagian besar media bisnis akan melaporkan berita ini secara netral: “BlackRock efisien, tren Wall Street, keputusan strategis.” Namun di balik itu semua, kami menawarkan narasi tandingan: bahwa kapitalisme global sedang bertransformasi menjadi alat pemusnahan budaya, pengendalian geopolitik, dan perampasan tanah, dan Indonesia, jika tidak waspada, akan menjadi salah satu ladangnya.
Ketika Danantara dibangun dengan penuh pujian dan tepuk tangan, kita mesti bertanya: siapa yang mendanainya? siapa yang mengendalikannya? dan kepada siapa sebenarnya proyek ini berpihak?
Antara Kapital, Kolonialisme, dan Kemanusiaan yang Dibungkam
Pemangkasan BlackRock bukan sekadar berita ekonomi. Ia adalah gejala sistemik dari krisis peradaban: bahwa di dunia yang dikuasai oleh algoritma dan angka, nilai manusia tak lagi dihitung, kecuali sebagai risiko investasi.
Pada akhirnya, selama kita terus membiarkan perusahaan seperti BlackRock menjadi tulang punggung investasi nasional dan pembangunan digital, maka kita bukan hanya menukar kedaulatan kita, melainkan juga sedang ikut-ikutan menjual Palestina dengan harga murah.
