Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Ketegangan Memuncak: Elon Musk Dukung Pemakzulan Trump, Proyek Antariksa AS Terancam

POROS PERLAWANAN — Perseteruan publik yang luar biasa antara Presiden AS, Donald Trump dan CEO SpaceX, Elon Musk, telah meledak menjadi krisis nasional dengan implikasi strategis yang luas. Menurut laporan Bloomberg pada Jumat 6 Juni, Musk menyerukan pemakzulan Trump dan mengancam akan menarik wahana antariksa Dragon dari proyek NASA, setelah Trump mengusulkan pemutusan kontrak dan subsidi Federal senilai miliaran Dolar kepada perusahaan-perusahaan milik Musk.

Langkah itu segera memicu kepanikan di pasar. Saham Tesla anjlok hingga 18% pada Kamis 5 Juni, menandai kejatuhan paling tajam sejak 2022. Situasi ini sekaligus mengungkap tarikan antara oligarki Silicon Valley dan elite politik Gedung Putih yang selama ini dibungkus dalam kemitraan ekonomi strategis.

“Silakan, buat hariku menyenangkan,” sindir Musk dalam platform X pada Kamis 5 Juni, menantang Trump secara langsung.

Retaknya Jantung Kapitalisme Amerika

Konflik antara Musk dan Trump bukan sekadar perkelahian antara dua ego besar. Ia adalah retakan yang menganga di jantung proyek peradaban Barat modern, di mana kekuasaan politik dan modal raksasa telah bersekutu terlalu lama untuk menutupi borok kebusukan internalnya.

Apa yang dilihat dunia hari ini adalah pertarungan antara dua wajah dari satu tubuh busuk imperium, satu mengeklaim mewakili rakyat lewat populisme nasionalis, satu lagi menjanjikan masa depan lewat teknologi privat. Namun keduanya telah bersatu dalam mengeksploitasi dunia, menjarah sumber daya, dan mengobarkan perang demi laba.

Kini, ketika miliaran Dolar kontrak Federal ipertaruhkan, dan proyek antariksa Amerika berada di ujung tanduk, tidak bisa tidak dunia bertanya: jika sistem ini bisa hancur hanya karena dua miliarder berselisih, apa yang sesungguhnya menjadi fondasinya?

Musk, yang kini menyerukan pemakzulan, dulunya adalah penopang logistik Militer AS di luar angkasa. Sedangkan Trump, sang penyambung lidah para lobi industri senjata, kini memutar arah dan menyerang sang industrialis. Rezim ini sedang memakan dirinya sendiri.

NASA dan SpaceX di Ambang Krisis

SpaceX memainkan peran vital dalam program luar angkasa dan pertahanan AS. Wahana Dragon telah digunakan untuk membawa astronot NASA dan pasokan logistik ke Stasiun Luar Angkasa Internasional. Bloomberg mencatat bahwa sejak 2000, perusahaan-perusahaan Musk telah menerima US$22,5 miliar dalam kontrak Federal yang tidak diklasifikasikan.

Pengakhiran proyek ini bukan hanya tantangan teknis, melainkan juga pertaruhan politik. “Konsekuensi dari pemutusan kerja sama ini bisa menciptakan kekosongan strategis dalam kapabilitas luar angkasa AS,” ujar seorang pejabat NASA yang enggan disebutkan namanya.

Ketua DPR Mike Johnson menyebut konflik ini “sangat tidak produktif”, sementara miliarder Bill Ackman mendesak keduanya “untuk berdamai demi bangsa”.

Dari Epstein ke Impeachment: Eskalasi Verbal yang Meledak

Musk tidak hanya menyerang dari sisi ekonomi. Ia menyindir bahwa Trump terlibat dalam skandal Jeffrey Epstein, isu yang selama ini tertahan di lapisan bawah politik Amerika.

“Saatnya menjatuhkan bom: Trump ada dalam berkas Epstein”, tulis Musk.

Sindiran ini dianggap sebagai “pelanggaran garis merah” oleh lingkaran dalam Trump, dan langsung disambut dengan ancaman pemutusan kontrak, pembatasan kredit EV, hingga pembatalan nominasi orang kepercayaan Musk, Jared Isaacman sebagai Kepala NASA.

Trump menuduh Musk sebagai pengkhianat dan berbohong soal detail legislasi pajak kendaraan listrik. Musk membalas dengan menyebut undang-undang itu sebagai “monster boros penuh babi kotor” dan menyerukan pembentukan partai politik baru.

Ketika Dewa-Dewa Kapitalisme Bertarung di Langit Amerika

Di balik baju jas dan dasi presiden, di balik logo-lambang megakorporasi, dunia kini melihat wajah sejati Amerika: sebuah sistem yang tak lagi disatukan oleh etika, tapi oleh kontrak, ego, dan ancaman timbal balik.

Apa yang disebut “Mimpi Amerika” kini justru dipertontonkan sebagai mimpi buruk oligarki yang saling membunuh di atas tumpukan kontrak militer dan subsidi rakyat. Ketika para pemilik modal berseteru dengan presiden sendiri, ini bukan sekadar konflik kepentingan, ini adalah tanda-tanda keruntuhan sebuah tatanan.

Apa bedanya Elon Musk yang mengancam menghentikan proyek luar angkasa dengan Trump yang menarik bantuan militer dari negara-negara bonekanya? Keduanya menunjukkan bahwa kekuasaan di Barat bukanlah alat untuk melayani rakyat, tetapi senjata untuk memeras sesama elite.

Konflik ini menempatkan rakyat Amerika, sekutu luar negeri, dan industri strategis dalam ketidakpastian. Dengan Pemilu mendekat dan dunia menyoroti, pertikaian antara Musk dan Trump akan terus menjadi lakon utama dari krisis peradaban modern yang kini sedang menggeliat dari dalam.

Rujukan:
1. Bloomberg, 6 Juni 2025
2. CNBC, 6 Juni 2025
3. The New York Times, 6 Juni 2025
4. NASA.gov
5. JPMorgan Analysis 2025
6. X/Twitter Statements by Elon Musk (@elonmusk)

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *