Ketika Amerika Jadikan Gencatan Senjata sebagai Alasan dan Dalih Lebih Aman untuk Balik Kandang
POROS PERLAWANAN — Pada 7 Mei 2025, Washington mengumumkan sebuah “terobosan damai” di Laut Merah. Namun seperti biasa, di balik senyum manis diplomasi Amerika, bersembunyi kegugupan strategis yang menganga. Gencatan senjata yang dimediasi oleh Kesultanan Oman antara Amerika Serikat dan Pemerintah Sanaa bukanlah akhir dari perang, melainkan restrukturisasi prioritas dalam lanskap konfrontasi regional. Demikian inti dari catatan eksklusif analis Irak, Najah Muhammad Ali, yang diterbitkan Meher pada Sabtu (10/5), yang menyingkap narasi lain di balik kesepakatan yang dirayakan di Gedung Putih namun didekonstruksi dalam posko-posko perlawanan.
Washington, dalam pengakuannya yang langka, menyatakan akan menghentikan serangan ke Yaman dengan imbalan jaminan dari Sanaa bahwa kapal-kapal berbendera AS tidak akan menjadi sasaran rudal dan drone. Tetapi, dengan tegas Sanaa menyampaikan bahwa kapal-kapal milik atau berafiliasi dengan rezim Zionis tetap sah sebagai target.
Dalam kalimat lain, Laut Merah belum menjadi laut netral, tetapi telah menjadi medan yang tunduk pada logika Perlawanan, bukan superioritas Barat. Kendali atas Bab al-Mandab telah berpindah tangan, bukan ke Oman, bukan ke CENTCOM, melainkan ke komando Ansarullah di Sanaa.
Dari Welfare Guardian ke Welfare Gone Wrong
Sejak akhir 2023, AS dan sekutunya meluncurkan Operasi “Welfare Guardian”, sebuah nama yang terdengar seperti lembaga sosial tetapi berfungsi sebagai armada perang. Hasilnya bukan keamanan, melainkan spiral kekacauan. Lebih dari 18 perusahaan pelayaran global meninggalkan Laut Merah, memutar jalur ke Tanjung Harapan, menaikkan biaya logistik dunia, dan mempercepat krisis inflasi global.
Apa yang gagal dicapai dengan kapal perusak dan jet tempur kini coba disusun ulang melalui kesepakatan pragmatis. Namun Sanaa memahami bahwa ini bukan gencatan untuk menyerah, melainkan kemenangan posisi tawar. Serangan terhadap kapal Zionis akan terus berlanjut. Hal tersebut bukan bentuk pelanggaran, melainkan justru esensi dari gencatan senjata, yakni jeda taktis sambil mempertahankan garis akidah.
Rudal-Rudal yang Menjawab dengan Simbol
Selama berbulan-bulan, rudal-rudal dan drone Yaman menembus atmosfer Palestina yang diduduki. Bandara Ben-Gurion, pelabuhan Eilat, bahkan kawasan pemukiman Jaffa, semuanya pernah menjadi lokasi dentuman yang menegaskan bahwa “dari Sanaa kami datang, untuk Al-Quds kami bergerak”.
Strategi ini bukan sekadar hujan rudal. Ini adalah pencegahan terukur, sebuah “strategic signaling” yang menunjukkan bahwa Dimona, Ben Gurion, dan pusat-pusat vital Zionis bisa saja diserang… jika Sanaa menghendaki. Namun mereka memilih menahan pelatuk besar sambil menembakkan peluru simbolik.
Industri Senjata Mandiri dalam Kepungan
Lebih dari sembilan tahun dikepung, Sanaa tak sekadar bertahan, tetapi justru melahirkan lompatan teknologi militer. Tak satu pun kapal Iran berhasil menembus blokade laut untuk memasok senjata ke Yaman. Namun industri rudal dan drone tetap hidup, berkembang dengan material lokal, rekayasa nasional, dan semangat perlawanan yang transenden.
Inilah yang membedakan Sanaa dari hampir seluruh gerakan lain di kawasan: sebuah kemandirian strategis di tengah keterpaksaan. Ketika negara-negara minyak menggantungkan pertahanannya pada pembelian dari Lockheed Martin, Sanaa justru memproduksi “Palestine-2”, sebuah rudal hipersonik buatan lokal yang melesat menghunjam ke jantung Zionis.
Trump, Gaza, dan Kalkulasi Tahun Pemilu
Trump, yang duduk di kursi kekuasaan seperti koboi tua yang rindu sorotan panggung, memiliki prioritas jelas, yaitu “America First”, sebuah slogan yang kini berarti, “Jangan biarkan Laut Merah menjadi Vietnam Lautan.”
Tahun pemilu memaksa sang Presiden menghindari konfrontasi terbuka di Yaman. Bukan karena cinta damai, melainkan karena takut kekalahan politik. Ia tetap mendanai Zionis, tetapi memilih tidak membalas Sanaa. Sebuah ironi di mana Imperium yang memelihara monster kolonial justru gemetar saat anak-anak Yaman bersarung dan bersandal jepit menyulut sumbu pencegahan.
Polarisasi Wacana dan Arab “Zionis”
Sementara itu, dunia Arab terbelah. Di satu sisi, rakyat dari Maghrib hingga Teluk mengangkat poster Gaza dan membakar bendera Israel. Di sisi lain, sebagian rezim Arab, dengan diam-diam atau terang-terangan, menyerang Sanaa. Di media sosial, istilah “Zionis Arab” membanjiri tagar-tagar, mencerminkan frustrasi rakyat terhadap para penguasa yang menjual akidah demi investasi.
Namun Sanaa tidak bergantung pada pujian. Ia berpegang pada prinsip. Dalam perang yang bercampur antara peluru dan propaganda, yang dibutuhkan bukan sekadar viralitas, melainkan keteguhan strategi dan keberanian membayar harganya.
Ke Mana Laut Ini Mengarah?
Gencatan senjata ini bukan kesepakatan damai, melainkan sebuah freeze frame dari film perang panjang. Laut Merah kini berada dalam masa antara: antara jeda dan jilid baru, antara “de-escalation” ala Washington dan “resistance escalation” ala Sanaa.
Pertanyaannya bukan apakah gencatan ini akan bertahan, tetapi siapa yang akan menulis bab berikutnya. Jika sejarah diajarkan dari reruntuhan Saadah dan kegagalan Operasi Decisive Storm, maka satu pelajaran tetap relevan: Yaman tak akan pernah menjadi halaman belakang siapa pun. Dan selama masih ada langit, Sanaa akan tetap menerbangkan benderanya untuk Gaza. [PP/MT]
