Serangan Rudal Yaman Guncang Ben-Gurion: Israel Hadapi Krisis Udara Terburuk yang Belum Pernah Terjadi Sebelumnya
POROS PERLAWAANAN – Krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya kini melanda jantung transportasi udara Israel. Surat kabar Ibrani Ma’ariv pada Minggu 11 Mei, melaporkan bahwa Bandara Internasional Ben-Gurion mengalami isolasi udara total pascaserangan rudal presisi yang diluncurkan oleh Angkatan Bersenjata Yaman. Rezim apartheid Israel, dalam kondisi genting, mengakui bahwa dampak psikologis dan strategis dari serangan tersebut tak dapat diatasi dalam waktu dekat.
Seorang pejabat senior rezim Zionis, yang tidak disebutkan namanya, menyampaikan kepada Ma’ariv: “Bandara Ben-Gurion mengalami krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya akibat penangguhan penerbangan oleh maskapai asing karena ancaman rudal dari Yaman. Kecuali terjadi perubahan besar dalam situasi keamanan atau tercapainya perjanjian damai, kita tidak akan melihat bandara ini kembali normal.”
Dampaknya terasa langsung dengan Swiss, Jerman, Yunani, dan India termasuk di antara negara-negara yang menangguhkan penerbangan ke Tel Aviv. Pukulan ini tidak hanya mengoyak kepercayaan internasional terhadap sistem pertahanan Israel, tetapi juga menghantam keras sektor ekonomi dan pariwisata rezim tersebut.
Di balik sandal jepitnya, para pejuang Ansharullah yang sering diremehkan oleh musuh sebagai “Houthi bersandal jepit” menjawab dengan presisi rudal dan keberanian yang mengubah peta kekuatan. Dalam narasi perlawanan, mereka bukan hanya para “sandal pemberani dari Laut Merah”, tetapi kini menjadi penentu ritme geopolitik di Kawasan.
Penulis Ma’ariv, Avi Ashkenazi menggarisbawahi kegamangan yang kini menyelimuti elite militer-politik Israel: “Apa yang diminta dari Netanyahu dan Menteri Perang Yisrael Katz adalah keputusan strategis dalam waktu dekat: apakah akan mengerahkan 20-30 jet tempur, pesawat tanker, dan wahana intelijen ke langit Yaman, atau menerima kenyataan pahit—bahwa Israel kini sendirian dalam konfrontasi ini, bahkan tanpa Amerika sekalipun.”
Lebih jauh lagi, Ashkenazi mencatat bahwa bahkan Presiden AS, Donald Trump menyadari bahwa konflik dengan Yaman bukanlah medan untuk menang, melainkan pelajaran sejarah keras bagi siapa pun yang mencoba menguasai negeri pegunungan itu.
Dari Peringatan Menjadi Penghinaan
Analis geopolitik kawakan, Pepe Escobar, menulis dengan pedas: “Jangan pernah terlibat dengan Yaman. Tidak akan ada yang bisa memenangkan perang melawan mereka. Bahkan AS pun harus memohon gencatan senjata. Kini, Angkatan Laut terkuat dunia pun dipaksa mundur. Ini bukan sekadar kekalahan militer—ini penghinaan sejarah”.
Escobar menambahkan bahwa transformasi ini bukan sekadar pertahanan; ini adalah pernyataan bahwa teater kekuasaan global telah berpindah panggung. Serangan rudal ke Ben-Gurion tidak lagi hanya dilihat sebagai insiden militer, tetapi sebagai deklarasi kehadiran strategis Yaman dalam sistem pencegahan internasional, sebuah domain yang sebelumnya dikuasai eksklusif oleh kekuatan nuklir dan negara-negara adidaya.
Yaman dan Akhir Era Monopoli Kekuatan Global
Dalam bingkai sejarah, banyak Gerakan Perlawanan telah menantang kekuatan besar, namun capaian Ansharullah menandai lompatan kualitatif yang belum pernah dicapai oleh kekuatan akar rumput di Kawasan. Tanpa dukungan langsung dari blok adikuasa, dan bersenjata ala kadarnya, mereka berhasil memaksa perubahan strategi pada poros imperialis global.
Washington, yang biasanya dengan angkuh mengarungi perairan terbuka sebagai simbol dominasi, kini terpaksa menepi. Bahkan figur keras seperti Trump pun yang dulu menggertak akan “menghapus Houthi dari muka bumi”—akhirnya mengakui keberanian dan keteguhan mereka.
Langit yang Direbut Kembali
Langit yang dulu menjadi simbol supremasi teknologi dan pengawasan global kini berubah menjadi ruang yang membisikkan nama-nama baru dalam sejarah perlawanan. Dari Sanaa hingga Laut Merah, dari Bayda hingga Ben-Gurion, Yaman telah membalikkan arah angin sejarah.
Kini, bukan hanya wilayah darat, tapi udara pun menjadi medan penentu kekalahan Zionisme.
