Krisis Strategis Israel Terkuak di Gaza: Ketergantungan Udara Gagal Tutupi Kelemahan Darat
POROS PERLAWANAN – Dilansir Al Mayadeen, krisis strategis Militer Israel di Gaza semakin terbuka lebar setelah laporan media dalam negeri mengungkap kegagalan mendalam operasi pasukan daratnya. Dalam laporan eksklusif yang dirilis oleh surat kabar Maariv, terungkap bahwa unit-unit penyerang Israel mengalami kemunduran signifikan di medan tempur, menandai titik kritis dalam perencanaan militer dan kebijakan strategis Israel.
Laporan tersebut menyoroti adanya ketidakseimbangan kronis antara kekuatan udara dan kemampuan darat Militer Israel. Meskipun serangan udara jarak jauh, khususnya terhadap target di Iran, diklaim berhasil, operasi darat justru mencerminkan kegagalan menyeluruh. Ketergantungan Israel pada kekuatan udara disebut telah menghambat pembangunan kekuatan tempur darat dan membuat garis depan rentan terhadap taktik asimetris.
Lebih jauh, Maariv menilai bahwa kepemimpinan politik dan militer Israel gagal membaca perubahan wajah peperangan modern, di mana ketahanan darat dan dukungan internal menjadi faktor vital. Strategi yang stagnan dan operasi yang tak berkembang dinilai telah membawa Militer Israel ke dalam kebuntuan.
Perang di Gaza bahkan disebut sebagai langkah yang “tersesat arah”, karena hingga kini belum berhasil mencapai tujuan utama yaitu menghancurkan Kelompok Perlawanan Palestina dan membebaskan sandera. Sebaliknya, konflik ini telah menyeret Israel ke dalam situasi yang disebut sebagai “rawa mahal”, memperlihatkan kelemahan sistemik dan minimnya visi strategis yang jelas.
Kondisi ini semakin diperparah dengan meningkatnya tekanan internal dan eksternal. Maariv memperingatkan bahwa keputusan-keputusan Militer akhir-akhir ini tampak lebih didorong oleh kepentingan politik sempit dibandingkan kepentingan keamanan nasional jangka panjang.
Pada Rabu 25 Juni lalu, Militer Israel mengonfirmasi kehilangan tujuh personelnya dalam sebuah penyergapan mematikan oleh pasukan Perlawanan di Khan Younis, Gaza selatan. Insiden ini kembali menegaskan kemampuan Kelompok Perlawanan untuk melawan secara efektif, bahkan di tengah agresi besar-besaran.
Di sisi lain, Israel terus melanjutkan operasi militer yang disebut sebagai “perang genosida” oleh pengamat internasional, dengan puluhan korban jiwa warga sipil Palestina jatuh setiap harinya, terutama di wilayah distribusi bantuan kemanusiaan.
