Legislator Inggris: Klaim 'London Dukung Perdamaian di Yaman' Lebih Mirip Lelucon Keji - POROS PERLAWANAN
Loading

Ketik untuk mencari

Yaman

Legislator Inggris: Klaim ‘London Dukung Perdamaian di Yaman’ Lebih Mirip Lelucon Keji

Legislator Inggris: Klaim 'London Dukung Perdamaian di Yaman' Lebih Mirip Lelucon Keji

POROS PERLAWANAN – Seorang anggota Parlemen Inggris, Zahar Sultana mengecam keras kebijakan negaranya dalam menyokong persenjataan Koalisi Saudi di Yaman. Ia menegaskan, klaim Pemerintah Inggris soal pembelaan perdamaian di Yaman “lebih mirip sebuah lelucon keji”.

Dalam pidatonya di Parlemen pada Senin 25 Januari kemarin, legislator dari Partai Buruh ini mengingatkan, Koalisi Saudi pada tahun 2018 lalu membombardir sebuah bis sekolah, sehingga menewaskan 40 anak dan warga sipil serta melukai puluhan lainnya.

Sembari menyinggung bahwa serangan itu dilancarkan Koalisi Agresor, Sultana menambahkan, ”Belakangan para pejabat Saudi mengklaim tak ada warga sipil yang menjadi target. Ini adalah salah satu dari sekian banyak kejahatan perang nyata yang dilakukan Koalisi Saudi di Yaman.”

Sultana lalu mengutip statemen PBB pekan lalu, bahwa 2 juta warga Yaman, juga 10 juta anak, menghadapi bahaya kelaparan dan kelangkaan pangan. Sedangkan 80 persen populasi Yaman juga bergantung pada bantuan kemanusiaan, sementara 1 juta orang terjangkit Covid-19.

“Yang menyebabkan keprihatinan dan memunculkan skandal nasional adalah bahwa semua kejahatan perang dan krisis kemanusiaan ini tak mungkin terjadi tanpa dukungan AS dan Inggris,” tandasnya.

“Bom-bom buatan AS dan Inggris ditembakkan dari jet-jet bikinan AS dan Inggris. Para pilot jet-jet itu juga dilatih oleh AS dan Inggris.”

“Di awal perang Yaman, Inggris mengizinkan penjualan senjata senilai 5,3 miliar Pound kepada Saudi. Kemenhan telah mencatat 516 kasus pelanggaran hukum internasional dalam serangan ke Yaman,” papar Sultana.

Menurutnya, perang ini bisa diakhiri sejak dahulu dengan cara menghentikan dukungan AS dan Inggris untuk Riyadh.

“AS dan Inggris bisa saja berhenti menjual senjata, melatih para serdadu, dan memperbaiki jet-jet Saudi. Namun mereka tidak melakukannya, bahkan lebih mementingkan laba dari penjualan senjata dan persekutuan dengan Diktator Saudi,” tegas Sultana.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *