Lima Analisis di Balik Gelombang Berita ‘Amerika Batal Menyerang’ Iran
POROS PERLAWANAN — Dalam beberapa hari terakhir, muncul gelombang pemberitaan yang menyebut Amerika Serikat mengurungkan rencana serangan militer terhadap Iran. Padahal sebelumnya, Presiden AS Donald Trump melontarkan ancaman keras terkait opsi militer. Munculnya narasi “tidak ada serangan” ini dinilai bukan tanpa sebab.
Menurut Fars News Agency pada Minggu 18 Januari, selama tiga hari terakhir sejumlah laporan menyebut Amerika Serikat menarik kembali opsi serangan militer terhadap Iran. Situs berita dan keamanan, Axios melaporkan para penasihat Trump menyarankannya untuk tidak menyerang. The New York Times mengeklaim Oman meminta Trump meninggalkan opsi militer. Sumber lain menyebut Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu juga meminta serangan dihentikan. Trump sendiri mengaku telah meyakinkan dirinya untuk tidak menyerang Iran.
Lantas, mengapa setelah ancaman keras penggunaan kekuatan militer, tiba-tiba muncul gelombang berita dan analisis yang menegaskan tidak akan ada serangan?
1. Gagalnya Proyek Kerusuhan
Menurut sejumlah analis, rencana Amerika dalam gelombang kerusuhan terakhir terdiri atas lima tahap. Tahap pertama adalah mengganggu pasar valuta asing untuk memicu protes. Tahap kedua, protes berkembang menjadi kerusuhan. Tahap ketiga, kerusuhan membuka ruang bagi aktivitas sel-sel kecil teror. Tahap keempat, aktivasi kelompok teroris secara luas. Tahap terakhir, serangan militer langsung.
Saat ini, rencana tersebut dinilai gagal pada tahap ketiga akibat respons aparat keamanan dan kehadiran masyarakat di lapangan. Kegagalan ini disebut menjadi salah satu faktor utama mundurnya opsi serangan militer Amerika Serikat.
2. Dugaan Operasi Tipu Daya
Aktivitas Militer Amerika Serikat dan Israel sebelumnya telah menempatkan Iran pada tingkat kesiapsiagaan tertinggi. Selain itu, berdasarkan pernyataan Dewan Pertahanan Iran, Teheran disebut siap melakukan langkah balasan terukur. Para pejabat militer dan politik Iran juga mengeluarkan peringatan keras kepada AS dan Israel.
Analisis kedua menyebut gelombang berita “tidak menyerang” bisa jadi bagian dari upaya menipu Iran agar menurunkan tingkat kesiapsiagaan, sebelum kemudian melancarkan serangan. Namun, merujuk pengalaman strategi tipu daya melalui jalur diplomasi dalam konflik 12 hari sebelumnya, Iran disebut tidak menjadikan kabar tersebut sebagai alasan untuk menurunkan kewaspadaan.
3. Trauma Perang 12 Hari
Menurut laporan CNN, pengalaman perang 12 hari serta krisis sistem pertahanan Amerika Serikat dan Israel dalam mencegat rudal Iran memicu kekhawatiran serius di Tel Aviv. Kondisi ini disebut mendorong Netanyahu meminta Trump meninjau ulang penggunaan opsi militer terhadap Iran.
4. Lumpuhnya Jaringan Internal Israel
Pascakerusuhan, aparat keamanan Iran dilaporkan melancarkan operasi besar terhadap jaringan teror yang terkait dengan Israel. Garda Revolusi Iran dan Kementerian Intelijen mengumumkan penangkapan sejumlah tokoh kunci jaringan tersebut. Melemahnya jaringan operasional asing di dalam negeri Iran dinilai menjadi faktor lain yang menurunkan urgensi serangan militer Amerika Serikat.
5. Kekhawatiran Negara Kawasan dan Peran Mediasi
Sebagian besar pemberitaan soal pembatalan serangan juga berkaitan dengan peran mediasi Oman, Arab Saudi, Qatar, dan Mesir. Di tengah eskalasi ketegangan, Iran secara terbuka memperingatkan akan menyerang pangkalan militer Amerika Serikat di Kawasan.
Kekhawatiran negara-negara Arab terhadap kemungkinan serangan balasan Iran ke pangkalan-pangkalan AS di wilayah mereka disebut menjadi alasan kuat di balik upaya mediasi, sekaligus pembentukan narasi “Amerika tidak jadi menyerang” Iran.
