Loading

Ketik untuk mencari

Eropa

Mayoritas Warga Inggris Desak Sanksi terhadap Rezim Zionis

POROS PERLAWANAN — Gelombang kesadaran publik mengenai kejahatan rezim Zionis di Gaza mulai mengguncang jantung Eropa. Rakyat Inggris, yang selama ini diseret oleh kebijakan luar negeri penjajah dan kaki tangan imperialisme, kini bersuara lantang untuk penghentian aliran senjata, pembekuan perdagangan, dan penjatuhan sanksi terhadap Israel.

Survei terbaru yang dilakukan oleh lembaga Yonder Consulting menunjukkan arah sejarah sedang bergeser. Dikabarkan bahwa 62% rakyat Inggris menuntut sanksi ekonomi terhadap entitas Zionis, 65% mendesak penghentian penjualan senjata, dan 60% mendukung pembekuan perjanjian dagang Inggris-Israel, sebuah pukulan telak terhadap para penguasa yang masih terus bermain api di atas penderitaan rakyat Palestina.

Namun, elite penguasa Inggris tampaknya tetap menutup telinga. Setelah sempat mengumumkan penghentian negosiasi perjanjian dagang baru dengan Israel, utusan dagang Inggris malah melakukan kunjungan mencurigakan ke Wilayah Pendudukan, mencoba mempererat simpul perdagangan dengan rezim yang tengah membombardir rumah sakit, masjid, dan sekolah di Gaza.

Pengkhianatan ini tak berhenti di situ. Pemerintahan Partai Buruh, yang mengeklaim diri sebagai pembela hak asasi, tercatat telah mengeluarkan lebih banyak izin ekspor senjata ke Israel dalam satu kuartal terakhir 2024 dibanding total yang dikeluarkan oleh Pemerintahan Konservatif dalam tiga tahun sebelumnya. Rakyat berbicara, namun Pemerintah justru mempertebal kolaborasi dengan penjajah.

Anggota parlemen Inggris, Richard Burgon, yang memublikasikan hasil survei ini, menyatakan bahwa RUU sanksi terhadap Israel tengah disusun, namun memperingatkan bahwa Pemerintah harus bertindak sekarang, sebelum darah yang tertumpah semakin membanjiri nurani Eropa.

Dukungan terhadap Palestina bukan lagi suara minoritas. Ini adalah seruan nurani kolektif, yang juga bergema di Jerman, di mana 58% warganya mendukung penghentian ekspor senjata ke entitas Zionis. Dari Berlin hingga London, rakyat menyerukan keadilan, sementara pemimpin mereka terikat pada kontrak-kontrak gelap dan kepentingan industri perang.

Sementara itu, tragedi terus berlangsung di Gaza. Sejak Oktober 2023, lebih dari 54.000 jiwa warga Palestina telah syahid, mayoritas adalah perempuan dan anak-anak. Kementerian Kesehatan Gaza mengonfirmasi bahwa darah suci mereka tak hanya ditumpahkan oleh rudal Zionis, melainkan juga oleh kelanjutan ekspor senjata dari negeri-negeri yang mengaku beradab.

Kelompok-kelompok HAM mengingatkan: setiap peluru dan drone yang dikirim dari Barat adalah bukti partisipasi aktif dalam kejahatan perang. Dunia menyaksikan. Hingga rakyat pun, kini bangkit.

Tags: