Loading

Ketik untuk mencari

Arab Saudi

Media Ibrani: Ketika Trump Bertemu dengan Pemimpin Kelompok Teroris, Israel Tersingkir dari Arena

POROS PERLAWANAN – Salah satu media berbahasa Ibrani, yang menggambarkan Abu Muhammad al-Jolani sebagai teroris, menyatakan bahwa pertemuan antara Presiden AS, Donald Trump dan pemimpin kelompok tersebut dapat menghilangkan posisi Israel dari meja perundingan baru di Timur Tengah.

Pada Kamis 15 Mei, seorang analis surat kabar Yisrael Hayom, Yehuda Blanga menulis bahwa Trump telah mengabaikan permintaan berulang dari Benyamin Netanyahu dan, atas desakan Arab Saudi dan Turki, mencabut sanksi terhadap Suriah serta mengembalikannya ke masyarakat internasional.

Menurut Blanga, pertemuan antara Trump dan al-Jolani bukan hanya penting karena terjadi setelah seperempat abad, tetapi juga karena menandai pengakuan de facto Amerika terhadap Pemimpin Kelompok Teroris Haiat Tahrir al-Sham yang masih diklasifikasikan sebagai organisasi teroris oleh AS, dan yang pemimpinnya memiliki banderol hadiah $10 juta di kepalanya.

Ia menambahkan bahwa pertemuan ini diselenggarakan atas permintaan Arab Saudi dan Turki; dua kekuatan regional yang kini sedang mengatur ulang geopolitik Kawasan, sementara Israel justru tersisih.

“Israel hari ini seperti anak yang dikeluarkan dari grup WhatsApp kelas. Semua orang diundang ke pesta yang digelar di Riyadh, sementara kami bahkan tak diizinkan hadir. Kami kesulitan mengakses informasi tentang perkembangan terbaru di Timur Tengah, dan tak memiliki kapasitas untuk memengaruhi arah peristiwa”, tulis Blanga dengan nada sinis.

Menurutnya, Israel kini berada dalam kondisi kacau di berbagai sektor akibat kebingungan internal dan absennya strategi yang jelas. Ia lalu mempertanyakan, “Seberapa jauh kita kini dari pusat episentrum peristiwa di Timur Tengah?”

Blanga menyebut bahwa dua negara yang memainkan peran penting dalam pertemuan Trump dengan kekuatan baru di Suriah adalah Arab Saudi dan Turki. Terhadap Saudi, Israel telah berupaya menjalin hubungan selama bertahun-tahun namun belum menuai hasil. Sementara hubungan dengan Turki kini berada di ambang kehancuran, dengan tanda-tanda permusuhan yang semakin nyata. Jika Turki dikategorikan sebagai musuh, katanya, Israel seharusnya bisa bekerja sama dengan Saudi untuk membangun kerangka kerja strategis baru terkait Gaza dan Suriah.

Ia menyarankan agar Israel segera merumuskan peta jalan untuk periode pasca-perang, yang tak hanya akan membuka jalur ke Riyadh, tetapi juga bisa mengurangi tekanan terhadap Israel dari AS, Eropa, dan dunia Arab.

Sebagai pakar urusan Arab di Departemen Studi Timur Tengah Universitas Bar-Ilan, Blanga memperingatkan agar para pemimpin Israel tidak membiarkan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan mengambil alih persoalan Suriah. Erdogan, katanya, sedang berupaya membangun tatanan baru di atas puing-puing Suriah dengan dukungan AS.

Namun, jika laporan dari pihak Arab benar, maka pencabutan sanksi terhadap Suriah, meski bertentangan dengan permintaan Netanyahu, menunjukkan bahwa AS kini memiliki pandangan, kepentingan, strategi, dan rencana yang sangat berbeda dari Israel terkait masa depan Timur Tengah.

Tags: