Tak Ada Tempat bagi Zionis di Napoli
POROS PERLAWANAN – Dilansir dari situs Counterpunch, pada 9 Mei, masyarakat kota Napoli menyatakan dengan tegas penolakan terhadap kehadiran Zionis di kota mereka. Dalam semangat solidaritas terhadap rakyat Palestina, warga kota pelabuhan bersejarah ini meluncurkan kampanye sosial dan kultural yang menolak segala bentuk normalisasi dengan Israel dan ideologi Zionisme.
Napoli, yang sejak lama dikenal sebagai kota dengan tradisi perlawanan, kembali menunjukkan jati dirinya. Dalam buku “The Many-Headed Hydra” karya Peter Linebaugh dan Marcus Rediker, kota ini dikenang karena pemberontakan rakyat pada 1647 yang dipimpin oleh Tommaso Aniello alias Masaniello, seorang penjual ikan yang memimpin Revolusi melawan penguasa Spanyol. Semangat perlawanan itu, menurut banyak warga, hidup kembali dalam solidaritas mereka terhadap Palestina.
Sejak dimulainya agresi Israel di Gaza pada 7 Oktober 2023, masyarakat Napoli terus menggelar berbagai bentuk aksi solidaritas: mulai dari demonstrasi jalanan, pameran seni, seminar, hingga konser dan pemutaran film. Salah satu kegiatan yang paling mencolok adalah konser bertajuk “Live for Gaza” yang menyuarakan dukungan terhadap rakyat Palestina.
Napoli menjadi simbol perlawanan terhadap apartheid Israel dan kolonialisme Zionis. Di jantung kota tua Napoli, sebuah restoran bernama Taverna di Santa Chiara telah dikenal luas sebagai salah satu pusat gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi (BDS) di Italia. Pemilik restoran tersebut secara terbuka menyatakan dukungan terhadap Palestina, meski mendapat intimidasi, ancaman, hingga serangan fisik dari individu yang disebutnya sebagai “turis Zionis”.
“Tidak satu pun dari ini akan menghentikan kami. Kami akan terus mendukung Palestina,” ujar sang pemilik restoran.
Ia juga menyoroti gencarnya propaganda pro-Israel yang dikenal sebagai Hasbara, yang menurutnya berupaya membungkam kritik terhadap Israel dengan tuduhan antisemitisme.
“Organisasi-organisasi Yahudi lokal, serta kedutaan dan konsulat Israel, aktif menyebarkan narasi yang menyamakan solidaritas terhadap Palestina dengan kebencian terhadap Yahudi,” tambahnya.
Menurut laporan, rezim Israel mengalokasikan sekitar 157 juta Dolar per tahun untuk membiayai kampanye semacam itu di berbagai negara, termasuk Italia. Dana ini digunakan untuk membenarkan kebijakan pendudukan, blokade Gaza, serta serangan terhadap wilayah Lebanon dan Suriah.
Penyerangan terhadap restoran Taverna di Santa Chiara pada 5 Mei lalu memicu respons luas dari publik. Sehari setelah kejadian, ribuan warga Napoli turun ke jalan dan memenuhi alun-alun depan balai kota. Mereka membawa spanduk, menyuarakan dukungan terhadap Palestina, dan mengecam kejahatan kemanusiaan yang dilakukan Israel di Gaza.
Tak berhenti di situ, masyarakat Napoli meluncurkan kampanye bertajuk “Zionist Not Welcome” (‘Zionis Tidak Diterima’) yang dengan cepat menjadi tren di media sosial lokal. Dalam pernyataan kolektif mereka, warga menegaskan bahwa kota Napoli menolak kehadiran siapa pun yang mewakili atau mendukung ideologi Zionisme.
Kampanye ini turut didukung oleh otoritas lokal. Wali kota Napoli dan penasihat urusan pariwisata kota tersebut mengeluarkan pernyataan bersama yang menyatakan solidaritas terhadap rakyat Palestina dan menegaskan sikap anti-Zionisme kota tersebut.
Mengikuti jejak Maladewa yang lebih dulu melarang masuk warga negara Israel, warga Napoli menyerukan agar kebijakan serupa diterapkan secara simbolik di kota mereka. Dalam waktu singkat, lebih dari 5.000 poster “Zionis Tidak Diterima” tersebar di berbagai sudut kota, dicetak dengan dukungan dana dari kampanye publik 100% untuk Gaza.
Kampanye tersebut berhasil menggalang lebih dari 100.000 Euro hanya dalam 100 jam pertama. Dana ini digunakan untuk mendukung kegiatan advokasi, aksi langsung, dan lembaga swadaya masyarakat yang memberikan bantuan kemanusiaan kepada rakyat Palestina.
Setidaknya dua belas acara publik telah diselenggarakan di berbagai distrik Napoli sebagai bagian dari rangkaian kampanye. Dalam salah satu pernyataan kolektifnya, warga Napoli menegaskan: “Sekaranglah waktunya untuk mengungkap hakikat Zionisme sebagai ideologi biadab yang bertumpu pada genosida. Kami menolak kehadiran Zionis di mana pun, dan kami tidak akan tinggal diam selama kejahatan di Gaza terus berlangsung.”
Pernyataan akhir kampanye ini menegaskan posisi kolektif masyarakat Napoli: “Kami 100% berdiri bersama Gaza. Zionis tidak diterima di kota kami.”
Sumber: https://www.counterpunch.org/2025/05/09/naples-italy-stands-with-gaza/
