Media Ibrani: Trump, Turki, dan Israel Dalangi Pemberontakan dan Aksi Terorisme di Suriah
POROS PERLAWANAN — Media Ibrani Maariv pada Minggu 01 Desember melaporkan bahwa konflik yang terus berlanjut di Suriah merupakan bagian dari konspirasi yang dirancang oleh Donald Trump, Turki, dan Israel. Informasi ini berasal dari seorang analisis, pakar dari Dewan Nasional Hubungan Arab-Amerika, yang diwawancarai oleh salah satu media Arab terkemuka.
Menukil Tasnimnews Agency dalam laporannya, Maariv mengutip pakar tersebut menyatakan bahwa Donald Trump, dengan agenda untuk mengurangi pengaruh Iran di Timur Tengah, menginstruksikan sejumlah aktor regional, termasuk Turki, untuk mendukung kelompok-kelompok yang disebutnya sebagai oposisi Suriah. Dukungan ini mencakup pemberian izin kepada kelompok-kelompok tersebut untuk melancarkan serangan terkoordinasi ke kota Aleppo, salah satu wilayah strategis di Suriah.
Lebih lanjut, pakar ini mengungkap bagaimana persiapan untuk serangan tersebut telah dimulai beberapa bulan sebelumnya. Proses pelatihan bagi kelompok-kelompok Takfiri Suriah itu dilakukan secara sistematis dan di bawah pengawasan ketat untuk memastikan efektivitas serangan. Namun, Turki hanya memberikan persetujuan final untuk operasi tersebut setelah gencatan senjata di Lebanon berhasil diberlakukan.
Laporan ini mempertegas dugaan keterlibatan aktor internasional dalam memperpanjang konflik Suriah, yang telah berlangsung lebih dari satu dekade. Konflik ini tidak hanya menyebabkan kerusakan besar-besaran di berbagai wilayah, tetapi juga menelan korban jiwa dalam jumlah besar dan menciptakan krisis kemanusiaan yang belum menunjukkan tanda-tanda berakhir.
Hingga saat ini, baik pemerintah Amerika Serikat, Turki, maupun Israel belum memberikan tanggapan resmi atas laporan yang dirilis oleh Maariv. Namun, laporan ini memicu perdebatan luas mengenai peran negara-negara tertentu dalam menentukan arah konflik di kawasan Timur Tengah, terutama di Suriah yang menjadi medan konflik geopolitik.
